Pendidikan

Memahami Trauma dengan Perhatian Khusus pada Anak, Kupas Tuntas Luka Masa Kecil Lewat Buku Psikologi

Teks: Buku Memahami Trauma Dengan Perhatian Khusus Pada Masa Kanak-Kanak (Natmed.id/Sukri)

Samarinda, Natmed.id – Di balik perilaku orang dewasa yang sulit mengelola emosi, sering mengalami kecemasan tanpa sebab atau terjebak dalam hubungan yang tidak baik, sering kali terdapat jejak luka lama yang belum sembuh.

Fenomena ini dikupas secara tajam dan empatik dalam buku terbaru karya pakar psikologi senior, Prof Irwanto, Ph.D dan Hani Kumala, M.Psi yang berjudul “Memahami Trauma, Dengan Perhatian Khusus pada Masa Kanak-Kanak”.

Buku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini hadir sebagai oase di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mental.

Bukan hanya menyajikan teori, Prof Irwanto dan Hani Kumala juga memberikan perspektif baru tentang bagaimana hantu masa lalu membentuk realitas masa kini.

Salah satu poin krusial yang ditegaskan dalam buku ini adalah pemisahan antara stres biasa dan trauma. Prof Irwanto menjelaskan bahwa trauma masa kanak-kanak atau yang secara ilmiah dikenal sebagai Adverse Childhood Experiences (ACEs) terjadi ketika seorang anak mengalami peristiwa yang mengancam jiwa atau integritas fisiknya, namun tidak memiliki sistem pendukung yang kuat untuk mengatasinya.

Buku ini merinci berbagai bentuk trauma, mulai dari kekerasan fisik dan seksual, penelantaran emosional, hingga menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Prof Irwanto dan Hani Kumala menekankan bahwa pengabaian emosional di mana seorang anak merasa tidak didengar atau tidak dicintai bisa memiliki dampak yang sama merusaknya dengan kekerasan fisik.

Yang membuat buku ini sangat berbobot adalah penjelasan mengenai sisi neurobiologis. Hani Kumala memaparkan bagaimana trauma yang dialami secara berulang pada masa pertumbuhan dapat mengubah struktur otak anak.

“Ketika anak berada dalam kondisi terancam secara terus-menerus, otak mereka akan selalu berada dalam mode bertahan hidup (survival mode). Akibatnya, bagian otak yang mengatur emosi dan logika menjadi tidak sinkron,” tulis mereka.

Hal inilah yang menjelaskan mengapa korban trauma masa kecil sering kali sulit berkonsentrasi, mudah meledak marah, atau justru menutup diri sepenuhnya saat dewasa.

Buku ini menantang stigma masyarakat yang sering melabeli anak-anak nakal atau bermasalah. Penulis mengajak orang tua, guru, dan penegak hukum untuk menggunakan lensa trauma.

Alih-alih menghakimi perilaku buruk seorang anak dengan hukuman, buku ini mendorong kita untuk memahami apa yang memicu perilaku tersebut. Dengan memahami akar trauma, pendekatan yang dilakukan bisa lebih bersifat memulihkan (restorative) daripada menghukum (punitive).

Kabar baik yang dibawa oleh buku ini adalah bahwa otak manusia memiliki sifat plasticity, yaitu kemampuan untuk berubah dan pulih. Bab-bab terakhir buku ini didedikasikan untuk strategi pemulihan.

Beberapa langkah kunci yang dibahas meliputi, bagaimana menciptakan lingkungan yang aman bagi anak untuk tumbuh. Lalu, peran pengasuh utama dalam memberikan rasa aman yang konsisten sebagai fondasi penyembuhan.

Selain itu, pengenalan terhadap berbagai metode profesional juga dapat membantu individu memproses memori traumatis mereka.

Buku ini bukan hanya ditujukan bagi para praktisi psikologi atau akademisi. Ini adalah buku wajib bagi orang tua yang ingin memutus rantai trauma antargenerasi, bagi pendidik yang berhadapan dengan beragam karakter siswa, serta bagi setiap individu yang ingin memahami dirinya sendiri dengan lebih baik.

Dengan gaya bahasa yang tetap mudah dipahami namun kaya akan data ilmiah, Prof Irwanto dan Hani Kumala berhasil memberikan sumbangsih besar bagi literatur kesehatan mental di Indonesia.

Buku ini adalah pengingat bahwa meskipun kita tidak bisa mengubah masa lalu, kita selalu punya kesempatan untuk memahami, menerima dan akhirnya pulih dari luka tersebut.

Related posts

Samarinda Book Party Sebut Banyak Mahasiswa Belum Kenal Buku

Nanda

Bea Siswa Tuntas Dibuka, Ini Jadwalnya

Febiana

Resmi Pimpin SMAN 16 Samarinda, Sutrisno Sebut Guru Honorer dan TU Jantung Pendidikan

Sukri

Leave a Comment