Samarinda, Natmed.id – Persoalan lampu penerangan jalan umum (PJU) yang mati, tiang lampu miring, hingga maraknya pencurian kabel kembali menjadi sorotan DPRD Kota Samarinda.
Kondisi tersebut dinilai tidak hanya mengganggu estetika kota, tetapi juga membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda Deni Hakim Anwar mengungkapkan sejumlah ruas jalan strategis seperti Jalan Pahlawan hingga Jalan dr Sutomo masih gelap karena lampu yang tidak berfungsi.
Bahkan, sebagian fasilitas penerangan yang baru terpasang dilaporkan kembali mati akibat pencurian kabel dan komponen pendukung.
“Lampu di Jalan Pahlawan sampai Jalan dr Sutomo itu masih banyak yang mati. Ada juga yang baru saja kemalingan. Ini jelas membahayakan,” kata Deni saat ditemui di Gedung DPRD Samarinda, Kamis 26 Februari 2026.
Ia menuturkan, Komisi III sebelumnya telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan menemukan banyak tiang lampu lama yang kondisinya sudah tidak layak. Temuan tersebut telah disampaikan kepada dinas terkait, termasuk dalam forum pembahasan dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).
“Kami sudah mengusulkan pengadaan dan peremajaan ke dinas terkait, juga kami komunikasikan ke TAPD. Usulannya ada, tapi sampai sekarang Dinas Perhubungan masih menunggu karena keterbatasan anggaran. Kita tahu kondisi efisiensi, tapi ini menyangkut keselamatan publik,” tegasnya.
Persoalan PJU tidak hanya terjadi di Jalan Pahlawan, kondisi tiang lampu di kawasan Jalan Antasari, tepatnya di depan pusat hiburan, yang terlihat miring dan berpotensi roboh.
“Itu masih tiang lama dan sudah miring sekali. Kita baru lihat yang di atas saja sudah berbahaya, apalagi struktur kabel di dalam tanah yang tidak kita ketahui kondisinya,” ujarnya.
Komisi III DPRD Samarinda mendorong agar Pemkot Samarinda melakukan peremajaan total dengan mengganti tiang lama menjadi tiang oktagon seperti yang telah diterapkan di Jalan Basuki Rahmat dan Jalan Kesuma Bangsa. Selain dinilai lebih aman, konsep tersebut juga mendukung penataan kota dan pengembangan pedestrian di sepanjang trotoar.
“Kami harapkan ke depan tidak ada lagi tiang di median jalan. Semua ditempatkan di sisi kiri dan kanan agar lebih aman dan estetik,” kata Deni.
Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan pasca-pembangunan. Maraknya pencurian kabel lampu jalan, besi penutup drainase, hingga baut-baut jembatan menunjukkan tidak adanya sistem pemantauan yang berkelanjutan.
“Tidak cukup hanya membangun. Pengawasan internal harus kuat. Kasus besi penutup drainase yang hilang, baut di bawah jembatan perniagaan yang raib, itu semua membahayakan masyarakat,” tegasnya.
Deni menilai, kejadian serupa di Jembatan Mahkota, di mana kabel optik hilang hingga lampu jembatan padam dan kawasan menjadi gelap, merupakan bukti lemahnya kontrol lapangan.
“Lampu di sekitar Mahkota itu sebelumnya indah, tiba-tiba gelap gulita. Ini membahayakan pengguna jalan dan mengganggu kenyamanan,” katanya.
Untuk itu, DPRD Samarinda meminta Dinas Perhubungan meningkatkan patroli dan pemeriksaan berkala, minimal sebulan sekali, terhadap PJU dan infrastruktur pendukung. Deni juga mendorong sinergi dengan Satpol PP dalam penegakan aturan dan pengamanan aset publik.
“Kalau ini dianggap sangat penting, ya wajib ada pengecekan rutin. Jangan tunggu kejadian baru bertindak. Yang dirugikan itu masyarakat,” tandasnya.
