Samarinda, Natmed.id – Kalimantan Timur mulai mengadopsi teknologi kultur jaringan berbasis bioreaktor untuk memperbanyak bibit unggul. Tahun ini, Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim menargetkan produksi hingga 60 ribu bibit, naik tiga kali lipat dari capaian 2024 yang hanya sekitar 20 ribu bibit.
Teknologi bioreaktor diterapkan pada sejumlah komoditas, di antaranya pisang kepok grecek, porang, hingga anggrek. Koordinator Kultur Jaringan DPTPH Kaltim, Hairunnisa, menyebut metode ini lebih cepat dibandingkan cara konvensional.
“Manfaat kultur jaringan ini memperbanyak tanaman lebih cepat, menghasilkan ribuan bibit, dan tahan terhadap penyakit seperti fusarium yang menyerang pisang di Kaltim,” ujarnya saat ditemui di arena Kaltim Expo 2025, Kamis, 28 Agustus 2025.
Proses kultur jaringan dimulai dari pemilihan bonggol tanaman induk yang sehat, kemudian dipotong kecil dan dikembangkan melalui tahap inisiasi, subkultur, hingga masuk ke bioreaktor.
Bibit dipelihara sekitar enam bulan, dengan perawatan media yang diganti setiap tiga minggu sekali. Setelah itu, bibit dipindahkan ke polibag besar selama dua bulan sebelum siap ditanam di lapangan.
“Kalau telat mengganti media, bibit bisa mati. Jadi prosesnya memang sangat ketat,” jelas Hairunnisa.
Meski menjanjikan, kultur jaringan menghadapi tantangan serius pada pemilihan tanaman induk. Penyakit fusarium yang menyebar lewat udara kerap merusak pisang di Kaltim, sehingga indukan harus benar-benar steril.
Selain itu, kultur jaringan hanya bisa dikelola tenaga khusus karena membutuhkan peralatan steril, ruang bersih, serta hormon dan nutrisi dengan takaran presisi.
“Tidak bisa sembarangan. Semua harus steril, termasuk ruangan dan peralatan. Kalau ada kesalahan kecil, bibit bisa gagal tumbuh,” tambahnya.
Saat ini bibit hasil kultur jaringan dipasarkan dengan harga Rp15 ribu per pohon. Harga tersebut lebih tinggi daripada bibit biasa, namun kualitasnya dianggap sebanding karena lebih sehat dan produktif.
Meski begitu, tantangan utama adalah menjangkau petani kecil. Sebagian petani di Kaltim masih mengandalkan bibit konvensional karena faktor harga dan keterbatasan akses.
Beta feature