Samarinda, Natmed.id – Menjelang Lebaran, suasana di Pasar Pagi Samarinda mulai menunjukkan geliat aktivitas warga yang berburu kebutuhan pokok. Namun, antusiasme tersebut dibayangi oleh melonjaknya harga sejumlah komoditas bumbu dapur yang meroket tajam dalam sepekan terakhir.

Salah satu pedagang sayuran di pasar pagi, Wati mengungkapkan bahwa kenaikan harga kali ini merata pada hampir seluruh bahan bumbu inti. Berdasarkan pantauan di lapaknya, kenaikan paling signifikan terjadi pada cabai rawit, bawang merah, dan tomat.
Menurut Wati, kenaikan ini bukan lagi bertahap, melainkan melonjak drastis setiap harinya. Cabai rawit yang biasanya dijual di kisaran harga normal, kini harus dibanderol dengan harga yang cukup tinggi bagi konsumen rumah tangga.
“Harganya meningkat semua, terutama itu tomat, cabai, bawang. Cabai sekarang Rp110 ribu, kalau bawang Rp60 ribu per kilogram,” ungkap Wati saat diwawancara, Rabu, 18 Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa kenaikan ini juga memicu kebingungan bagi pedagang dalam menentukan margin keuntungan. Sebagai contoh, harga tomat yang biasanya stabil di angka belasan ribu rupiah, kini modal dasarnya saja sudah menyentuh Rp22.000 per kilogram.
Kondisi serupa terjadi pada bawang merah, dengan modal dari agen sebesar Rp55.000, pedagang terpaksa menjual di angka Rp60.000 per kilogram untuk menutupi biaya operasional.
Wati menjelaskan bahwa rantai pasok bumbu dapur di Samarinda sangat bergantung pada satu titik distribusi utama. Hal inilah yang menyebabkan keseragaman harga di seluruh pasar tradisional di Samarinda saat terjadi kelangkaan atau lonjakan permintaan.
“Semua ambil dari sana, karena sentralnya di Pasar Segiri. Pokoknya kalau mau lebaran barang naik semua, sudah tidak heran lagi,” jelasnya.
Ketergantungan ini membuat para pedagang eceran di Pasar Pagi tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti fluktuasi harga yang ditetapkan oleh para distributor besar.
Meskipun harga melonjak, stok sayuran hijau seperti sawi dan bayam terpantau masih relatif aman dan stabil. Namun, untuk komoditas pelengkap hidangan khas lebaran seperti daun bawang, harganya ikut naik mencapai Rp50.000 per kilogram di tingkat grosir.
Kenaikan harga yang masif ini diakui Wati mulai berdampak pada pola belanja masyarakat. Banyak pembeli yang biasanya membeli dalam hitungan kilogram, kini beralih membeli dalam jumlah ons demi menghemat pengeluaran.
Para pedagang memprediksi puncak kenaikan harga akan terjadi pada H-1 Lebaran, di mana permintaan masyarakat mencapai titik tertinggi. Harga diperkirakan baru akan melandai setelah arus distribusi barang kembali normal pasca-libur panjang hari raya.
