Ekonomi

Faperta Unmul Tawarkan Program Sampah Jadi Emas

Teks: Direktur Bank Sampah Faperta Unmul, Ananda Bayu Saputra saat Memaparkan Bank Sampah (Natmed.id/Sukri)

Samarinda, Natmed.id — Direktur Bank Sampah Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Faperta Unmul) Ananda Bayu Saputra menekankan bahwa sampah sejatinya tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan akhir.

Menurut Bayu, konsep membuang sampah seharusnya dimaknai sebagai proses edukasi dalam mengenali jenis-jenis sampah dan cara pengolahannya. Sayangnya masyarakat kerap menganggap sampah sebagai barang yang tidak lagi memiliki nilai, sehingga langsung dibuang ke tong sampah tanpa proses pemilahan.

“Padahal ada beberapa jenis sampah yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan. Di Bank Sampah, itu kami sebut sebagai sampah bernilai,” jelasnya, pada saat talk show, Sabtu 14 Februari 2026.

Bayu menyebutkan, salah satu sampah bernilai yang paling dekat dengan lingkungan kampus adalah sampah kertas. Ia mencontohkan satu mahasiswa dapat menghasilkan hingga sekitar 10 kilogram sampah kertas. Jika dikalkulasikan dengan jumlah mahasiswa di Unmul, potensi aset yang dihasilkan bisa mencapai hitungan ton.

Tak hanya itu, Bank Sampah Faperta juga telah berkolaborasi dengan sejumlah laboratorium dalam pengelolaan sampah. Dalam satu kali pengambilan, satu laboratorium bahkan mampu menghasilkan sekitar 300 hingga 400 kilogram sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.

“Satu laboratorium bisa menghasilkan 300–400 kilogram sampah bernilai ekonomi dalam sekali pengambilan,” tambahnya.

Selain kertas, sampah botol plastik juga menjadi jenis sampah bernilai yang paling familiar di masyarakat. Namun, menurut Bayu, masih banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa botol plastik dapat dijual atau ditukarkan kembali menjadi sesuatu yang bernilai.

“Mindset kita masih sebatas membuang sampah ke tong atau ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) terdekat tanpa memilah. Padahal di Bank Sampah kami juga menjalankan sistem penukaran sampah menjadi emas,” ungkapnya.

Program “sampah jadi emas” tersebut dinilai memiliki daya tarik tersendiri, terlebih di tengah tren harga emas yang terus meningkat. Bayu mengungkapkan, saat ini nilai tabungan dari pengelolaan sampah di Bank Sampah Faperta telah mencapai puluhan ribu rupiah per hari, bahkan akumulasi tabungan sudah menembus ratusan ribu rupiah.

Ia juga menambahkan, berbagai jenis sampah seperti botol minuman, kardus, hingga minyak jelantah merupakan sampah bernilai yang bisa dimanfaatkan kembali.

“Kalau memiliki sampah bernilai, silakan dibawa ke bank sampah terdekat untuk ditukarkan menjadi nilai yang lebih berharga,” pungkasnya.

Related posts

139 Produk Kreatif di Samarinda Kini Miliki Hak Kekayaan Intelektual

Aminah

Jelang Idul Fitri Harga Bahan Pokok di Pasar Segiri Naik, Pembeli Menurun

natmed

Kaltim Bidik Lumbung Pangan dan Industri Olahan

Sukri

Leave a Comment