Politik

DPRD Kaltim Ingatkan Ancaman Tekanan Ekonomi Siswa di Wilayah 3T

Teks: Anggota Komisi IV DPRD Kaltim Agusriansyah Ridwan (dok: Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) Agusriansyah Ridwan mengingatkan ancaman serius tekanan ekonomi terhadap siswa di wilayah terdepan, terluar dan tertinggal (3T) menyusul tragedi meninggalnya seorang anak berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Peristiwa yang diduga bunuh diri akibat beban ekonomi keluarga dan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pendidikan tersebut, harus menjadi alarm nasional. Sekaligus peringatan bagi daerah lain, termasuk Kaltim agar tidak menutup mata terhadap kerentanan anak-anak dari keluarga miskin.

“Walaupun kasus ini terjadi di NTT, kita tidak boleh merasa aman. Di wilayah pedalaman Kaltim masih ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar pendidikan anaknya,” kata Agusriansyah saat dihubungi Jumat 6 Februari 2026.

Pendidikan tidak boleh dimaknai sebatas ketersediaan sekolah dan guru. Negara, menurutnya, harus memastikan setiap anak dapat mengakses pendidikan tanpa tekanan ekonomi, rasa malu, maupun beban psikologis yang berlebihan.

“Tidak boleh ada satu pun anak Indonesia yang kehilangan harapan hidup hanya karena tidak mampu membeli buku, alat tulis, atau perlengkapan sekolah. Kalau ini terjadi, berarti sistem perlindungan pendidikan kita belum hadir secara utuh,” tegasnya.

Legislator PKS itu menyoroti wilayah pedalaman Kaltim, khususnya Kabupaten Kutai Timur dan Berau, yang masih menghadapi tantangan klasik seperti keterbatasan ekonomi keluarga, jarak sekolah yang jauh, serta persoalan data penerima bantuan pendidikan yang belum sepenuhnya akurat.

“Masalahnya sering bukan pada ada atau tidaknya program, tapi apakah data penerima bantuan itu valid dan benar-benar menjangkau anak-anak yang paling membutuhkan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan layanan pendampingan psikososial di sekolah. Menurutnya, tekanan mental akibat kemiskinan kerap luput dari perhatian karena kebijakan pendidikan masih terlalu administratif dan berorientasi angka.

“Sekolah perlu dilengkapi sistem deteksi dini, konseling dan pendampingan bagi anak-anak rentan. Jangan sampai beban ekonomi berubah menjadi tekanan psikologis yang mematikan,” katanya.

Sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Kutai Timur, Berau dan Bontang, Agusriansyah mendorong pemerintah daerah memperkuat validasi data keluarga miskin, memastikan bantuan pendidikan tepat sasaran, serta membangun kolaborasi antara sekolah, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan tokoh agama.

“Jangan tunggu ada korban baru bergerak. Pencegahan harus dimulai dari sekarang. Pendidikan adalah investasi kemanusiaan, bukan sekadar urusan anggaran,” tandasnya.

Ia berharap tragedi di NTT menjadi momentum evaluasi menyeluruh kebijakan pendidikan, baik di tingkat pusat maupun daerah, agar sekolah benar-benar menjadi ruang aman dan harapan bagi masa depan anak-anak, terutama mereka yang hidup di wilayah 3T.

Related posts

Optimis Menang, Basri Rase Targetkan Perolehan 40 Persen Suara di Pilkada Bontang

ericka

Dapat Nomor Urut 2, Neni Bilang Nomor Keberuntungan

natmed

Andi Faizal Bangga TNI, Energi yang Selalu Menebar Kepedulian

natmed