Ekonomi

Daya Beli Lesu, Penjualan Lumpia Radja di Pasar Ramadan Samarinda Menurun Drastis

Teks: Outlet Lumpia Radja yang berlokasi di Jalan Siradj Salman, Samarinda Rabu,18/3/26. (Natmed.id/Sukri)

Samarinda, Natmed.id – Hiruk-pikuk Pasar Ramadan di kawasan Jalan Siradj Salman, Samarinda, rupanya menyimpan cerita kurang membahagiakan bagi sebagian pedagang.

Teks: Owner Lumpia Radja, Muhammad Idris Rabu,18/3/26. (Natmed.id/Sukri)

Muhammad Idris, sosok di balik usaha Lumpia Radja, mengaku bahwa Ramadan tahun 2026 ini merupakan salah satu tantangan terberat yang pernah ia hadapi selama hampir satu setengah dekade berwirausaha.

Idris, yang telah setia berjualan di lokasi tersebut selama 14 tahun, merasakan perubahan drastis pada antusiasme belanja masyarakat. Meski lokasi Siradj Salman tetap menjadi primadona bagi warga yang berburu takjil, daya beli konsumen dirasakannya merosot tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Tahun ini benar-benar tahun yang kurang baik menurut saya selaku pelaku UMKM, khususnya untuk jualan di Pasar Ramadan seperti ini. Karena pertama, daya beli masyarakat sangat menurun,” ungkap Idris dengan nada prihatin saat diwawancarai pada Rabu, 18 Maret 2026.

Dampak lesunya ekonomi ini terlihat nyata dari angka produksi harian Lumpia Radja. Jika merujuk pada rekam jejak dua hingga tiga tahun ke belakang, Idris biasanya mampu mengolah hingga 25 kilogram bahan baku yang menghasilkan sekitar 3.000 buah lumpia setiap harinya. Namun, kondisi saat ini memaksanya untuk memangkas jumlah produksi secara besar-besaran.

“Saat ini lebih dari separuh penurunannya, cuma bisa terjual 800 sampai 700 biji per hari. Itu daya belinya memang untuk tahun ini sangat-sangat turun drastis,” jelasnya lagi.

Tidak hanya dari konsumen perorangan, Idris juga merasakan hilangnya pesanan dalam jumlah besar. Biasanya, ia menjalin kerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia untuk menyediakan takjil bagi masjid-masjid di pelosok Samarinda, namun tahun ini pesanan tersebut hampir nihil.

Di tengah hantaman penurunan omzet, Idris tetap memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Samarinda. Menurutnya, tata kelola Pasar Ramadan tahun ini sudah sangat baik, di mana para pedagang diberikan ruang yang layak selama tidak mengganggu arus lalu lintas.

Hal yang paling ia syukuri adalah hilangnya praktik pungutan liar (pungli) yang sempat menghantui para pedagang di masa lalu.

“Alhamdulillah di sini tidak ada pungutan liar. Dulu pernah ada, tapi sekarang mungkin karena ketatnya Pemerintah Kota Samarinda mengawasi ini, alhamdulillah sekarang sudah tidak ada,” tuturnya.

Uniknya, Lumpia Radja bukanlah usaha yang buka setiap hari di gerai tetap. Bagi Idris, membuat dan menjual lumpia bermula dari sebuah hobi memasak yang ternyata mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Ia sengaja hanya muncul satu kali dalam setahun, yakni secara eksklusif selama bulan suci Ramadan untuk mengisi waktu luang.

“Saya jualan ini kan bukan pekerjaan saya sebenarnya, ini hobi jualan. Tapi alhamdulillah ternyata masakan saya ini diminati banyak orang,” kata Idris menutup pembicaraan.

Ia berharap di sisa hari bulan Ramadan ini, kondisi ekonomi masyarakat dapat kembali bergairah sehingga para pelaku UMKM sepertinya bisa menutup musim penjualan dengan hasil yang lebih baik.

Related posts

Kaltim Bidik Lumbung Pangan dan Industri Olahan

Sukri

Jelang Nataru 2026, Harga Bawang dan Telur di Pasar Bangil Kabupaten Pasuruan Naik

Sahal

Jelang Lebaran, Stok Beras dan Gula di Samarinda Melimpah

Sukri