Samarinda, Natmed.id – Perpindahan jalur karier seringkali mendatangkan tantangan yang tidak mudah. Dhita Apriliani, seorang jurnalis muda di bawah naungan MSI Group yang bertugas untuk media Infosatu.co. ia adalah seorang Sarjana Akuntansi yang memilih terjun ke dunia jurnalistik.
Wanita kelahiran Muara Badak ini membuktikan bahwa latar belakang akademis tidak membatasi ruang gerak seseorang untuk berkarya.
Meski dunia akuntansi yang akrab dengan angka dan logika matematika sangat berbeda dengan dunia pers yang dinamis, Dhita merasa jurnalisme adalah tempat di mana ia bisa mengekspresikan hobinya.
Meskipun secara profesional Dhita baru menginjakkan kaki di dunia jurnalisme profesional selama satu bulan, keterlibatannya dengan dunia kuli tinta sebenarnya sudah dimulai sejak masa kuliah.
Selama empat tahun terakhir, ia telah mengakrabkan diri dengan lingkungan pers mahasiswa, yang menjadi fondasi awal mentalitas jurnalisnya.
Ketertarikannya pada dunia ini berakar dari hobinya yang gemar membaca novel dan sejarah. Kegemaran tersebut membentuk daya imajinasi dan narasinya, meski ia mengaku pada awalnya tidak pernah belajar menulis berita secara formal.
“Aku pribadi suka banget baca novel dan sejarah. Aku nggak pernah belajar nulis narasi seperti berita, tapi begitu melihat dunia jurnalistik, aku langsung tertarik untuk mencoba menulis berita,” ungkapnya pada Kamis, 1 Januari 2026.
Transisi dari menghitung angka menuju mengolah fakta membawa tantangan teknis yang nyata. Dhita mengakui bahwa salah satu kesulitan terbesarnya adalah menentukan dan membagi sudut pandang (point of view) dalam setiap berita yang ditulisnya.
Jika dalam akuntansi semuanya bersifat pasti dan terukur, dalam jurnalistik, satu peristiwa bisa dilihat dari berbagai perspektif yang berbeda.
“Enjoy banget jalankannya, walaupun masih sering struggle karena kesulitan membagi POV tiap berita. Sampai sekarang pun saya masih dalam tahap observasi tentang bagaimana aturan dan etika jurnalistik yang baik itu diterapkan,” ujarnya.
Selain aspek teknis penulisan, Dhita juga sempat terkejut dengan kecepatan kerja di industri media digital. Target produksi berita yang tinggi menjadi kejutan budaya tersendiri baginya.
“Dulu mikirnya satu hari maksimal cuma empat berita. Ternyata, di lapangan ada jurnalis yang bisa menghasilkan 8 sampai 10 berita per hari yang tetap berkualitas. Itu jelas keren banget dan memicu saya untuk terus belajar supaya bisa produktif namun tetap kredibel,” tambahnya.
Sebagai lulusan akuntansi, Dhita tidak menampik bahwa ijazah yang ia raih dengan susah payah tetap memiliki nilai penting.
Ia tetap memiliki rencana untuk suatu saat menyelaraskan pekerjaannya dengan bidang akademisnya, namun untuk saat ini, hatinya masih tertuju pada peliputan dan penulisan berita.
Bagi Dhita, masa sekarang adalah waktu untuk eksplorasi dan pemetaan. Ia sedang menikmati proses menjadi penyambung lidah masyarakat melalui karya-karya jurnalistiknya di Infosatu.co.
Menutup perbincangan, Dhita memberikan tips bagi rekan-rekan sesama jurnalis muda yang ingin atau baru saja terjun ke lapangan.
Menurutnya, menjadi jurnalis bukan sekadar soal bisa menulis, melainkan soal kemauan untuk terus mendalami setiap isu yang ada.
“Mungkin terdengar klise, tapi teman-teman yang ingin jadi jurnalis memang harus mau dan banyak belajar. Pemberitaan yang kita hadapi dalam satu waktu itu bukan cuma satu hal, tapi banyak hal. Setiap berita yang kita tulis butuh pendalaman materi agar kita tidak salah dalam menyajikannya kepada publik,” pungkasnya.
Kisah Dhita Apriliani menjadi pengingat bahwa di era modern ini, fleksibilitas karier adalah hal yang wajar selama didasari oleh kemauan belajar yang tinggi dan ketekunan dalam menghadapi tantangan baru di lapangan.
