Ekonomi

Bertahan dari Pandemi, Pentol Polnes Jadi Jalan Hidup Muhammad Kaelani

Teks: Pedagang Pentol Polnes Muhammad Kaelani (Natmed.id/Sukri)

Samarinda, Natmed.id — Di sudut kawasan Politeknik Negeri Samarinda (Polnes), aroma kuah pentol hangat selalu punya cara sendiri untuk memanggil pelanggan. Di balik gerobak sederhana itu, Muhammad Kaelani berdiri setiap hari, menjaga usaha yang telah ia rintis sejak masa paling sulit dalam hidupnya pandemi Covid-19.

Teks: Aneka Varian Pentol (Natmed.id/Sukri)

Usaha pentol kuah yang kini dikenal sebagai Pentol Kuah atau Pentol Polnes bermula saat kebijakan lock down membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Dalam kondisi serba terbatas, Kaelani memilih kembali ke keterampilan yang pernah ia tekuni sebelum berjualan pentol.

“Waktu corona, kondisi memang sulit. Kita berusaha cari apa saja. Dulu saya jualan pentol keliling, tapi karena lock down tidak boleh, akhirnya jualan menetap,” tuturnya saat diwawancara Minggu 8 Februari 2026.

Sejak saat itu, pentol bukan sekadar dagangan melainkan cara bertahan. Dari pagi hingga malam, mulai pukul 08.00 hingga 20.00 Wita, Kaelani membuka lapaknya setiap hari. Lokasi yang dekat dengan lingkungan pelajar membuatnya menyesuaikan harga agar tetap terjangkau.

“Harganya harga pelajar, seribuan saja,” katanya singkat.

Pilihan menunya beragam pentol daging, urat, jamur, sayur, telur, ayam, keju, hingga pentol mercon. Namun bagi Khailani, banyaknya varian bukan hal utama, tapi kualitas.

Di tengah semakin banyaknya pedagang pentol bermunculan sejak pandemi, ia menyadari persaingan tak terelakkan. Meski begitu, ia memilih bertahan dengan caranya sendiri.

“Saya cuma mempertahankan kualitas. Cari bahan yang bagus. Semua orang ingin cari makan, jadi kita hargai,” ujarnya.

Menjelang hari-hari besar seperti Imlek, Ramadan, hingga Lebaran saat harga bahan pokok kerap naik Kaelani tetap memilih tidak menaikkan harga jual. Baginya, untung sedikit bukan masalah selama kualitas tetap terjaga.

Harapannya sederhana. Usahanya bisa terus bertahan. Soal membuka cabang, ia tak menutup kemungkinan, selama menemukan tempat yang tepat dan masih memiliki peluang.

“Kalau bisa bertahan saja sudah alhamdulillah. Kalau berkembang, itu bonus,” ucapnya pelan.

Di balik semangkuk pentol hangat, ada cerita tentang ketekunan, kesabaran, dan usaha kecil yang terus hidup di tengah perubahan zaman.

Related posts

Kecamatan Puspo Jadi Lumbung Susu Kedua Terbesar di Jatim

Sahal

Samarinda Dapat Kendalikan Inflasi Di Bawah Angka Nasional 

Nediawati

BNI Hadir Bantu UMKM

Nediawati