National Media Nusantara
Pasuruan

Aroma Kedelai dari Parerejo, Desa yang Hidup dari Tempe

Pasuruan, Natmed.id – Aroma kedelai rebus menyeruak dari hampir setiap sudut Desa Parerejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Sejak pagi, asap tipis dari tungku-tungku tradisional menandai dimulainya aktivitas warga yang menggantungkan hidup pada satu pangan sederhana: tempe.


Desa Parerejo dikenal luas sebagai Kampung Tempe. Sebagian besar penduduknya menjadi pengrajin tempe rumahan. Di halaman dan dapur rumah, kedelai direbus, difermentasi, lalu dibungkus daun pisang, sebuah tradisi yang telah berjalan puluhan tahun.

Bagi warga Parerejo, tempe bukan sekadar makanan, melainkan warisan keluarga. Keahlian memproduksi tempe diturunkan dari orang tua ke anak, menjaga pola produksi tradisional sekaligus menjadi sumber penghidupan utama masyarakat desa.

Salah satu pengrajin, Mukhammad Irfan memulai aktivitasnya sejak dini hari. Dalam sehari, ia mampu memproduksi hingga satu kuintal tempe. Produknya tidak hanya tempe batangan, tetapi juga tempe kemasan mika, tempe mendoan, keripik tempe, hingga olahan seperti brownies, cookies dan nugget tempe.

“Tempe batangan tetap kami pasarkan ke pasar karena permintaannya stabil. Tapi sekarang tempe juga bisa diolah agar punya nilai tambah,” kata Irfan, Senin 19 Januari 2026.

Dari berbagai produk tersebut, ia menyebut omzet bulanan usahanya dapat mencapai sekitar Rp50 juta.

Selain berproduksi, Irfan membuka Omah Edukasi Tempe, ruang belajar terbuka bagi masyarakat yang ingin memahami proses pembuatan tempe dari awal hingga menjadi produk olahan. Kegiatan ini diharapkan memperluas pengetahuan sekaligus memperkenalkan tempe sebagai produk pangan bernilai ekonomi.

Harga tempe Parerejo relatif terjangkau. Satu papan tempe batangan berukuran 23 x 35 sentimeter dengan berat sekitar dua kilogram dijual Rp30 ribu. Sementara tempe kemasan mika dibanderol Rp10 ribu, tempe mendoan kemasan isi enam lapis Rp6 ribu dan keripik tempe Rp70 ribu per kilogram.

Camat Purwodadi Sugiarto menyebut Desa Parerejo memiliki sekitar 185 pengrajin tempe aktif. Dalam satu hari, total produksi tempe desa ini mencapai sekitar 20 ton dengan perputaran uang diperkirakan menyentuh Rp200 juta per hari.

“Produksi tempe di Parerejo sudah berlangsung puluhan tahun. Konsistensi kualitas dan ketekunan pengrajin membuat tempe dari desa ini tetap diminati berbagai kalangan,” ujar Sugiarto.

Dari dapur-dapur sederhana itulah, Parerejo terus menghidupi warganya lewat tempe.

Related posts

Pemkot Pasuruan Kawal Program RTLH, Wawali Tinjau Kondisi Rumah Warga

Sahal

Edukasi Santri Pesantren Soal Tertib Lalu Lintas dan Anti-Bullying

Sahal

Tindak Lanjuti Isu BBM Bermasalah, Polsek Purworejo Cek SPBU Kebonagung

Sahal

You cannot copy content of this page