Samarinda, Natmed.id – Wali Kota Samarinda Andi Harun meminta masyarakat bersikap objektif dalam menilai pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kencana, menyusul masih adanya keluhan air keruh bahkan berwarna gelap yang diterima sebagian warga.
Andi Harun menyinggung pertanyaan wartawan yang ia terima sehari sebelumnya usai meresmikan lima instalasi pengolahan air minum (IPA) baru di kawasan Berambai, Sempaja Utara.
“Saya ditanya, bagaimana tanggapan Bapak masih adanya kejadian penduduk yang airnya keruh bahkan hitam? Saya jawab, mari kita objektif,” ujarnya saat sambutan pada Penganugerahan Satyalencana Karya Satya di Rumah Jabatan Wali Kota Samarinda, Kamis 12 Februari 2026.
Kejadian air keruh atau berwarna gelap kerap terjadi saat PDAM melakukan pengurasan bak penampungan secara berkala. Kondisi tersebut tidak dapat digeneralisasi sebagai gambaran pelayanan air bersih sepanjang tahun.
“Jangan sampai satu kejadian teknis direpresentasikan seolah-olah pelayanan air bersih kita sepanjang tahun hitam dan buruk,” tegasnya.
Ia menjelaskan, karakteristik sumber air baku di Samarinda berbeda dengan sejumlah daerah di Pulau Jawa yang banyak memanfaatkan mata air pegunungan. Samarinda, kata dia, bergantung pada air sungai yang memiliki tingkat kekeruhan lebih tinggi.
“Kalau mau membandingkan, bandingkan dengan Palembang yang sama-sama menggunakan sumber air sungai. Karena air sungai tentu banyak lumpur dan sampah, sehingga pengurasan bak dilakukan rata-rata setiap tiga bulan,” jelasnya.
Proses pengolahan air sungai, lanjutnya, membutuhkan tahapan lebih kompleks serta biaya lebih besar sebelum air layak didistribusikan kepada masyarakat.
Saat pengurasan dilakukan, rumah-rumah yang berada di ujung jaringan pipa sekunder biasanya terdampak lebih dahulu. Namun, kondisi tersebut umumnya hanya berlangsung sementara.
“Biasanya hanya satu sampai tiga jam. Mungkin ada yang sampai satu atau dua hari, tapi itu kasus tertentu,” katanya.
Pengurasan bak penampungan merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas layanan jangka panjang. Jika tidak dilakukan secara berkala, risiko kerusakan mesin dan penurunan usia teknis instalasi justru akan berdampak lebih luas.
“Kalau tidak dikuras, mesin cepat rusak, berkarat, usia teknisnya menurun. Akhirnya biaya membengkak dan pelayanan terganggu lebih lama,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Andi Harun juga menyampaikan pembelaannya terhadap pegawai PDAM dan aparatur pemerintah yang bekerja di lapangan. Ia menyebut para pegawai kerap bekerja hampir tanpa mengenal waktu, termasuk saat terjadi kebocoran pipa pada dini hari.
“Saya harus melindungi moral pegawai PDAM. Mereka bekerja hampir 24 jam. Jam 02.00 dini hari saat ada kebocoran, mereka ada di lapangan. Waktu istirahat mereka berkurang,” ucapnya.
Ia menilai tidak adil jika dedikasi para pegawai selama setahun penuh diabaikan hanya karena satu peristiwa teknis yang bersifat sementara.
“Kita sering melihat satu dua kejadian, lalu mengabaikan kerja setahun penuh orang-orang yang bekerja dalam sunyi,” katanya.
Momentum penganugerahan Satyalencana Karya Satya kepada 142 ASN, menurutnya, menjadi pengingat bahwa birokrasi masih diisi oleh aparatur yang setia dan konsisten mengabdi selama 10, 20, hingga 30 tahun.
“Bapak Ibu semua telah mengirim pesan bahwa wajah birokrasi kita masih layak dan pantas diberi kepercayaan,” ujarnya.
Meski demikian, Andi Harun mengakui pelayanan pemerintah belum sepenuhnya sempurna dan masih memerlukan perbaikan. Ia memastikan kritik tetap diterima sebagai bagian dari evaluasi, namun meminta agar disampaikan secara proporsional tanpa menghakimi secara sosial para pegawai.
“Kita terima kritik, kita berbenah. Tapi jangan menghukum secara sosial orang-orang yang justru melayani kita,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh ASN untuk terus memperkuat kesabaran dan komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
