Samarinda, Natmed.id – Wali Kota Samarinda Andi Harun bersama PT Pertamina Patra Niaga sepakat untuk melibatkan warga lokal dalam proyek pembangunan dan operasional terminal terpadu di Kecamatan Palaran.
Audiensi yang dilaksanakan pada Selasa, 3 Maret 2026, membahas progres final dan rencana eksekusi fisik Proyek Pembangunan Terminal Terpadu (Fuel Terminal) Palaran.
Proyek ini bukan sekadar pembangunan fasilitas penyimpanan bahan bakar biasa, melainkan sebuah transformasi besar dalam peta distribusi energi di Kalimantan Timur yang diproyeksikan mulai beroperasi penuh pada Januari 2028.
Dalam sesi wawancara mendalam usai pertemuan, Andi Harun mengenang kembali masa-masa sulit pada tahun 2021 hingga 2022, di mana antrean panjang kendaraan di SPBU menjadi pemandangan harian akibat kendala distribusi. Terminal Terpadu Palaran hadir sebagai jawaban permanen atas masalah tersebut.
“Kita tidak ingin Samarinda terus-menerus berada dalam posisi rentan. Selama ini, ketahanan energi kita sangat bergantung pada kelancaran suplai dari Balikpapan. Begitu ada kendala logistik di jalur distribusi, kita langsung terdampak,” tegas Andi Harun.
Dengan adanya terminal sendiri di Palaran, Samarinda akan memiliki cadangan penyangga (buffer stock) yang jauh lebih besar dan stabil.
Pembangunan di Palaran ini juga berkaitan erat dengan isu keselamatan warga di Jalan Cendana. Sudah menjadi rahasia umum bahwa keberadaan Depo BBM Cendana saat ini berada di tengah kawasan padat penduduk yang memiliki risiko keamanan tinggi.
Andi Harun menjelaskan bahwa transisi dari Cendana ke Palaran akan dilakukan secara terukur. Lokasi baru di Palaran telah ditetapkan sebagai kawasan industri dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), sehingga jauh dari pemukiman padat dan memiliki akses perairan yang mendukung sandar kapal tanker besar.
Selain itu, operasional di Cendana tidak akan ditutup seketika demi menjaga stabilitas stok saat ini. Rencananya, jenis BBM tertentu akan mulai dipindahkan penyimpanannya ke Palaran secara bertahap hingga seluruh fasilitas di Cendana benar-benar dipensiunkan atau dialihfungsikan.
Terkait dampak ekonomi, Andi Harun memberikan penekanan keras pada aspek manfaat bagi masyarakat lokal. Ia tidak ingin investasi besar ini hanya lewat tanpa memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan warga Samarinda.
Ada tiga poin komitmen yang ditekankan kepada Pertamina. Andi Harun meminta komitmen tertulis agar rekrutmen tenaga kerja, baik pada masa konstruksi maupun operasional, memprioritaskan warga ber-KTP Samarinda.
“Jika ada kualifikasi teknis yang belum terpenuhi, pemkot siap bekerja sama melalui Balai Latihan Kerja (BLK) untuk melatih anak muda kita agar sesuai standar Pertamina,” ujarnya.
Dibalik itu juga, kehadiran ribuan pekerja dan aktivitas logistik di Palaran dipastikan akan menggerakkan sektor perhotelan, katering (F&B), hingga jasa transportasi lokal.
Proyek ini tentu akan berdampak kepada pendapatan asli daerah (PAD). Melalui pajak-pajak daerah dan retribusi yang menyertai operasional terminal, Samarinda akan memiliki sumber pendapatan baru yang akan dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan dan drainase.
Secara administratif, proyek ini telah menunjukkan kemajuan signifikan. Izin lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah dikantongi.
Saat ini, Pemkot Samarinda sedang mengawal proses finalisasi Site Plan dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) agar konstruksi fisik dapat berjalan sesuai jadwal.
“Secara tata ruang, Palaran adalah pilihan paling logis. Selain mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah seberang, ini juga akan memecah konsentrasi beban kendaraan berat yang selama ini menumpuk di pusat kota,” tambahnya.
Andi Harun optimis bahwa Terminal Terpadu Palaran akan menjadi warisan penting bagi ketahanan energi Samarinda di masa depan.
Proyek ini diharapkan menjadi simbol modernitas infrastruktur yang selaras dengan perkembangan Samarinda sebagai kota penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN).
