Kalimantan Timur

Pemprov Kaltim Perkuat Hilirisasi Ekonomi Berkelanjutan

Teks: Sekda Kaltim, Sri Wahyuni saat diwawancara pada Selasa, 31/3/26 (Natmed.id/sukri)

Samarinda, Natmed.id – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Sri Wahyuni, mengatakan pemerintah secara agresif mulai menyusun fondasi ekonomi baru yang tidak lagi bertumpu pada pengerukan kekayaan alam mentah.

Strategi ini diterjemahkan melalui kebijakan hilirisasi industri yang terintegrasi dan penguatan sektor manufaktur. Transformasi ini bukan sekadar wacana, melainkan sebuah keharusan untuk menjaga resiliensi ekonomi daerah di masa depan.

Pemerintah Provinsi Kaltim, telah memetakan rantai pasok industri yang akan menjadi fokus utama. Setelah menginisiasi sektor pakan ternak, langkah besar berikutnya adalah menyasar sektor pengolahan minyak goreng dan produk turunannya untuk memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi daerah.

“Komitmen kita pada hilirisasi sangat jelas. Jika tahun ini kita fokus pada program pakan ternak, maka tahun depan konsentrasi diarahkan pada pembangunan rumah produksi bersama untuk hilirisasi minyak. Ini adalah ekosistem industri yang sedang kita bangun secara bertahap,”ungkap Sri Wahyuni kepada awak media, Selasa,31 Maret 2026.

Kehadiran rumah produksi bersama ini diharapkan mampu memutus rantai ketergantungan terhadap produk olahan dari luar pulau, sekaligus memberikan kepastian serapan pasar bagi para petani kelapa sawit lokal di Kaltim.

Data ekonomi terkini menunjukkan tren yang menggembirakan. Dominasi sektor pertambangan (emas hitam) yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung utama Kaltim perlahan mulai bergeser ke sektor-sektor produktif lainnya.

Sri Wahyuni mengungkapkan bahwa diversifikasi ekonomi telah menunjukkan angka nyata.

“Transformasi ekonomi di Kaltim bukan lagi sekadar narasi, tapi sudah mulai berjalan. Kita bisa melihat dari angka kontribusi sektor pertambangan yang sebelumnya dominan di angka 45%, kini telah berhasil ditekan ke posisi 34%.,”terangnya.

“Porsi ini mulai beralih dan diisi oleh sektor industri pengolahan, konstruksi, serta geliat luar biasa dari sektor makanan, minuman, dan UMKM,” tambah Sri Wahyuni.

Pergeseran ini menandakan struktur ekonomi Kaltim mulai menjadi lebih sehat dan terdiversifikasi, sehingga tidak lagi terlalu rentan terhadap gejolak harga komoditas tambang di pasar internasional.

Sebagai motor penggerak hilirisasi di wilayah pesisir utara, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) terus dioptimalkan. Pemprov Kaltim menyadari pengelolaan kawasan industri sebesar Maloy memerlukan kolaborasi manajerial yang lebih kuat dan profesional.

“Kami sedang menggodok skema Joint Venture antara Pemerintah Provinsi Kaltim dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur untuk memperkuat badan pengelola di KEK Maloy,”ucapnya.

“Kita ingin memastikan pengelolaan aset di sana lebih solid dan profesional, sehingga menciptakan iklim investasi yang jauh lebih kompetitif bagi para investor,”sambung Sri Wahyuni.

Dengan skema kerja sama ini, hambatan birokrasi dan operasional diharapkan dapat diminimalisir, menjadikan Maloy sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menyedot investasi besar di bidang industri pengolahan sawit dan mineral di masa depan.

Melalui penguatan sektor industri pengolahan dan perbaikan tata kelola kawasan investasi, Kalimantan Timur sedang mempersiapkan diri untuk menjadi pemain utama dalam peta industri nasional.

“Transformasi ini diharapkan tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga menjamin pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi generasi mendatang,”tutupnya.

Related posts

Waspada Virus Corona, Rusman Ya’qub : Minta Tim Khusus Berikan Pengawasan Terhadap WNA

natmed

Angkat Legenda Urban Kaltim, “Hantu Banyu“ Tayang di Bioskop Samarinda

Aminah

Lemahnya Pengawasan Jadi Tantangan di Era Otonomi Daerah

Irawati