Samarinda, Natmed.id – Masifnya penetrasi platform pemesanan tiket daring (online) tidak hanya mengubah cara masyarakat bertransaksi, tetapi juga memangkas pangsa pasar agen fisik hingga angka yang mengkhawatirkan.

Fenomena ini dirasakan langsung oleh Cendana Travel, salah satu pemain lama di industri jasa transportasi Samarinda. Customer Service Cendana Travel, Ghofur mengungkapkan bahwa perubahan perilaku konsumen ini terjadi secara drastis dalam beberapa tahun terakhir.
Kantor yang dulunya menjadi pusat keramaian calon penumpang, kini mulai sepi seiring dengan kemudahan akses pembelian tiket hanya melalui jempol di layar ponsel.
“Ibaratnya kalau hari normal dulu sebelum ada Traveloka, satu hari kami bisa melayani minimal 50 orang yang datang langsung. Sekarang? Paling tinggal 30 orang saja, itu pun sudah maksimal,” ujar Ghofur saat di kantornya, Rabu 18 Maret 2026.
Menurut Ghofur, akar permasalahan utama yang membuat agen luring (offline) sulit bersaing adalah struktur biaya. Sebagai bisnis fisik, Cendana Travel harus menanggung beban operasional yang jauh lebih besar dibandingkan platform digital yang serba otomatis.
“Semenjak ada aplikasi daring, volume penjualan kami berkurang hampir 50 persen. Masalah utamanya ada di harga. Di aplikasi, harga bisa jauh lebih murah karena mereka memotong rantai distribusi,” jelasnya.
Agen travel konvensional mengakui hal tersebut memang sangat berpengaruh, terlebih mereka harus memberikan gaji kepada karyawan sehingga tidak dapat memberikan harga tiket yang jauh lebih murah dari platform online.
“Sementara kami di sini ada biaya administrasi, ada gaji karyawan yang harus dibayar, dan biaya operasional kantor lainnya. Selisih harga Rp10.000 sampai Rp15.000 itu sangat berarti bagi konsumen sekarang,” tambahnya.
Menjelang Hari Raya Idulfitri, yang biasanya menjadi panen raya bagi penyedia jasa transportasi, Ghofur menyebut situasinya kini tidak lagi menentu.
Pola keberangkatan masyarakat telah bergeser menjadi lebih terencana, yang justru mengurangi urgensi untuk datang ke agen di hari-hari terakhir menjelang Lebaran. Ia mengamati bahwa tren puncak arus mudik melalui agen fisik kini justru terjadi jauh sebelum hari H.
“Orang rata-rata pulang itu di pertengahan puasa, paling mentok H-5 atau seminggu sebelum Lebaran. Kalau sudah mepet seperti H-2 atau H-3, penjualan kami justru menurun drastis,” jelasnya lagi.
Meski menghadapi tekanan besar, Cendana Travel tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik untuk rute domestik, khususnya jasa transportasi darat menuju bandara dan pelabuhan.
Namun, Ghofur menekankan bahwa ada batasan wewenang yang kini harus dipahami oleh calon penumpang, terutama terkait kebijakan pembatalan (refund) yang semakin ketat dari pihak operator pusat.
“Untuk tiket kapal laut, prosedurnya sekarang lebih ketat. Jika ada pembatalan, penumpang harus mengurusnya sendiri langsung ke loket resmi di Balikpapan. Kami sudah tidak bisa memfasilitasi di tingkat agen. Sedangkan untuk tiket pesawat, kami masih bisa membantu proses refund atau reschedule, namun tentu ada potongan biaya administrasi sesuai aturan maskapai dan durasi waktu lapornya,” tutup Ghofur.
Kondisi ini menjadi potret nyata bagaimana sektor usaha jasa konvensional di Samarinda harus terus berinovasi agar bisa bertahan di tengah dominasi teknologi digital yang kian tak terbendung.
