Samarinda, Natmed.id – Di bawah naungan gazebo kayu yang mulai lapuk di Pemakaman Muslimin, Jalan KH Abul Hasan, Samarinda, seorang pria tua duduk terpekur, Zahir namanya. Di usianya yang ke-65 tahun, saat sebagian besar orang menikmati masa tua di kursi goyang, ia justru menghabiskan hari-harinya di antara ribuan nisan.
Pada Senin 16 Februari 2026, cuaca Samarinda terasa menyengat, namun Zahir tetap setia di posnya. Bahkan ia bukan lagi penggali kubur bukan karena ia enggan, tapi karena tanah di sini sudah tidak lagi menyisakan ruang bagi penghuni baru.
“Kuburan di sini sudah penuh, paling keperawatan saja. Ini semua sudah batumpang-tumpang (bertumpuk),” ujarnya, kepada Natmed.id, Senin, 16 Februari 2026 di tempat Zahir beraktvitas.
Ia mulai menginjakkan kaki di pemakaman ini pada tahun 1973. Saat itu masih berusia di bawah 20 tahun merantau dari Jawa untuk mencari peruntungan. Siapa sangka, peruntungan itu membawanya menjadi saksi sejarah bagi ribuan orang yang diantarkan ke peristirahatan terakhir.
Selama kurang lebih 45 tahun, ia melihat wajah Samarinda berubah, namun dedikasinya tetap statis. Tugasnya kini sederhana namun berat bagi fisik yang menua yaitu mencabuti rumput liar dan membersihkan sampah plastik yang ditinggalkan peziarah.
Anehnya, pengabdian ini dilakukan tanpa imbalan tetap. “Enggak ada dapat duit, beramal saja di sini,” kata Zahir lagi pada media ini..
Untuk bertahan hidup, ia hanya mengandalkan kemurahan hati keluarga ahli kubur yang sesekali memberinya uang rokok atau jasa membersihkan makam secara sukarela.
Selebihnya, ia hanya ditemani jeriken obat rumput kiriman ketua pengurus makam yang ia semprotkan setiap hari agar belantara hijau tidak menelan nisan-nisan tua di sana.
Realitas fisik Giman sebenarnya sudah mencapai batasnya. Mata kirinya kini tertutup kabut katarak. Dunia di sekitarnya tampak buram, seperti melihat melalui lapisan es tipis.
“Kalau sudah panik, lihat di HP, saya sudah tidak melihat,” akunya.
Lebih lanjut, ungkap Zahir, upaya medis sudah dilakukan, namun vonis dokter pahit, ada gangguan saraf mata yang membuat operasi katarak menjadi risiko yang terlalu besar. Meski penglihatannya terbatas, ia masih mampu mengendarai sepeda motor selama 10 menit dari kediamannya di kawasan Rajawali setiap pagi.
Ia berangkat saat matahari mulai naik dan baru pulang ketika senja menyentuh cakrawala.
Bagi Zahir, pemakaman ini bukan tempat yang menakutkan. Ini adalah rumah kedua, tempat ia merasa masih berguna setelah istrinya berpulang bertahun-tahun lalu dan ketujuh anaknya telah membangun hidup masing-masing.
Kisah ini juga memotret krisis lahan makam di perkotaan. Di Jalan Abul Hasan nisan-nisan berdiri berhimpitan tanpa celah. Praktik tumpang makam di mana jenazah baru dimakamkan di atas lubang yang sama dengan kerabat yang lebih dulu meninggal menjadi satu-satunya solusi logis.
Masalah kian pelik dengan rendahnya kesadaran lingkungan para pengunjung. Botol plastik dan sampah bekas ziarah kerap menumpuk di area atas. Zahir dengan penglihatan yang kabur, harus memunguti sampah itu satu per satu untuk kemudian dibakar di sore hari.
“Namanya orang banyak, susah dibilangin. Masih saja buang sembarangan padahal sudah ada tempatnya dan sudah ada larangan,” keluhnya.
Saat ditanya mengapa ia masih bertahan di tempat yang tidak memberinya jaminan finansial di masa tua, jawabannya sederhana namun dalam. “Kita sudah tua, mau kerja apa lagi?”
Selain itu, bagi Zahir, menjaga kebersihan makam adalah bentuk penghormatan terakhir bagi mereka yang sudah tidak bisa lagi mengurus diri sendiri. Di tengah hiruk-pikuk pembangunan Samarinda yang kian modern.
Zahir adalah pengingat akan kesetiaan yang jarang ditemukan, sebuah pengabdian sunyi yang melampaui urusan materi, tepat di ambang pintu kematian yang setiap hari ia jaga.
