Samarinda

Tiga Dekade di Jalur Pengabdian, Jejak Abdul Haris dari Kaliorang ke Samarinda

Teks: Penyuluh Kesehatan Puskesmas Sidomulyo Abdul Haris Ismail Meneria Sertifikat Satyalencana Karya Satya XXX Tahun (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Di sebuah desa kecil di Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur, pada awal 1990-an, listrik belum menyala. Air bersih sulit didapat. Jalan belum sepenuhnya terbuka. Transportasi mengandalkan kapal laut dan kendaraan umum seadanya. Di sanalah Abdul Haris Ismail memulai jejak pengabdiannya sebagai tenaga kesehatan.

Kini, 35 tahun berlalu. Desa itu telah tumbuh menjadi kecamatan yang berkembang pesat. Fasilitas lengkap, penerangan memadai, dan akses pelayanan publik jauh lebih baik. Dan Abdul Haris (56) yang dulu datang sebagai perawat muda, sekarang berdiri di Rumah Jabatan Wali Kota Samarinda, Kamis 12 Februari 2026, menerima Anugerah Tanda Kehormatan Satyalencana Karya Satya XXX Tahun.

“Alhamdulillah hari ini saya diberi kesempatan untuk mendapatkan tanda kehormatan Satyalencana Karya Satya yang ke-30 tahun masa kerja,” ujarnya.

Saat ini, Abdul Haris bertugas sebagai penyuluh kesehatan di Puskesmas Sidomulyo, Samarinda Ilir. Namun perjalanan panjangnya di dunia pelayanan kesehatan dimulai jauh dari hiruk-pikuk kota.

Tahun 1990 menjadi awal pengabdiannya di unit pemukiman transmigrasi Kaliorang. Saat itu, daerah tersebut masih berstatus desa kecil dengan fasilitas serba terbatas.

“Masih terdiam di ingatan saya, menjalankan tugas di daerah sangat terpencil yang tidak ada air, listrik, dan sebagainya. Sekarang daerah tersebut sudah maju, bahkan sudah menjadi kecamatan,” kenangnya.

Selama 18 tahun ia mengabdi di Kutai Timur sebagai perawat. Medan berat dan keterbatasan fasilitas bukan hal yang mudah. Namun baginya, tantangan selalu kembali pada kesiapan diri.

“Tantangan dalam mengabdi itu sebenarnya tergantung dari kita sendiri, bagaimana kita bisa membaca situasi dalam bekerja. Kalau kita tidak siap, hendaknya kita menata diri kita. Kalau sudah siap bekerja, berikanlah senyum yang terbaik untuk masyarakat,” katanya.

Setelah hampir dua dekade di Kutai Timur, Abdul Haris melanjutkan pengabdian di Pemerintah Kota Samarinda. Sudah 15 tahun ia bertugas di kota ini, beralih peran dari perawat menjadi penyuluh kesehatan di Puskesmas Sidomulyo Samarinda.

“Intinya bagaimana memberikan kemudahan pelayanan bagi masyarakat. Kalau sudah kita memberikan kemudahan, otomatis masyarakat pasti memberikan penilaian terbaik,” ujarnya.

Selama 35 tahun menjadi aparatur sipil negara, ia baru dua kali mengalami mutasi dari Kutai Timur ke Kota Samarinda. Perubahan paling terasa sepanjang kariernya adalah transformasi sistem birokrasi. Saat ia mulai bertugas pada 1990, hampir seluruh administrasi masih menggunakan surat menyurat manual.

“Transportasi kadang masih memakai kapal laut, dan administrasi masih memakai surat. Sekarang sudah digitalisasi,” katanya.

Ia menyaksikan langsung lompatan besar dalam sistem pelayanan pemerintahan. Komputer, aplikasi, dan sistem digital kini menjadi bagian tak terpisahkan dari birokrasi.

“Alhamdulillah semuanya sudah menggunakan komputer, digitalisasi dan aplikasi. Jadi sekarang lompatan besarnya sungguh luar biasa,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan itu membuat pelayanan menjadi jauh lebih cepat dan efisien. “Lebih mudah semuanya dengan aplikasi, birokrasi kita jadi lancar.”

Penghargaan Satyalencana Karya Satya XXX Tahun menjadi momen refleksi bagi Abdul Haris. Sekitar dua setengah tahun lagi, ia akan memasuki masa pensiun.

Ia bersyukur dapat menutup sebagian besar perjalanan kariernya dengan penghargaan atas pengabdian tiga dekade lebih.

“Syukur alhamdulillah saya bisa melewati beberapa tantangan dalam pekerjaan,” ucapnya.

Kepada generasi ASN yang lebih muda, ia menitipkan pesan untuk melanjutkan pelayanan dengan sepenuh hati.

“Mudah-mudahan generasi selanjutnya bisa melanjutkan kegiatan pemerintahan ini dan menjadikan Kota Samarinda bersih, aman, tenteram sesuai visi misi Bapak Andi Harun dan Bapak Wakil Wali Kota,” katanya.

Bagi Abdul Haris, pengabdian bukan sekadar hitungan tahun. Ia adalah perjalanan panjang tentang kesetiaan pada tugas, kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman, dan kesediaan memberi senyum terbaik bagi masyarakat bahkan ketika bertugas di tempat yang dahulu nyaris tak tersentuh cahaya listrik.

Related posts

Lagi, Banjir Menelan Korban Jiwa

Febiana

Museum Samarinda Bakal Jadi Pusat Promosi Budaya Lokal

Aminah

Libur Natal, Order Ojol Malah Sepi

Aminah

Leave a Comment