Samarinda, Natmed.id – Tingkat kehilangan tutupan hutan di Bentang Alam Wehea–Kelay Kalimantan Timur (Kaltim) tercatat hanya sekitar 0,4 persen per tahun dalam dua dekade terakhir. Kondisi ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata provinsi yang mencapai 1,2 persen per tahun.
Data ini menunjukkan efektivitas pengelolaan hutan berbasis bentang alam yang melibatkan masyarakat, pemegang konsesi, dan lembaga konservasi.
Hasil pemantauan terbaru yang dilakukan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menunjukkan bahwa luas kawasan Wehea–Kelay mencapai 532.143 hektare, dengan 19 persen berstatus hutan lindung, sementara sisanya berupa area konsesi kehutanan, perkebunan, dan lahan kelola masyarakat.
Meski sebagian besar bukan kawasan konservasi resmi, praktik pengelolaan berbasis bentang alam berhasil menjaga keseimbangan antara aktivitas usaha dan perlindungan biodiversitas.
“Dalam 20 tahun terakhir, canopy cover di Wehea–Kelay hanya berkurang kurang dari 10 persen. Rata-rata penurunan per tahun sekitar 0,4 persen, jauh lebih baik dibandingkan rata-rata Kalimantan Timur,” jelas Spesialis Konservasi Spesies Terancam Punah YKAN Arif Rifqi, dalam komitmen bersama forum Wehea–Kelay untuk Multi Usaha Kehutanan dan Habitat Orangutan, Rabu 11 Februari 2026 di Midtown Hotel Samarinda.
Pemantauan juga mengungkap adanya area regrowth atau pertumbuhan kembali vegetasi sekitar 1 persen dari total kawasan, menandakan proses pemulihan alami.
Tim YKAN memanfaatkan metode patroli lapangan, kamera trap, alat perekam suara satwa (acoustic recording unit), dan citra satelit untuk pemetaan, bekerja sama dengan pemegang konsesi PBPH, ranger Hutan Lindung Wehea, Universitas Mulawarman dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Selain tutupan hutan, pemantauan difokuskan pada populasi satwa kunci, seperti orangutan dan owa. Populasi orangutan diperkirakan mencapai 1.282 individu, tersebar di tiga subhabitat utama, yakni Kelai, Telen, dan Wehea.
Tren populasi relatif stabil, sementara owa menunjukkan penurunan densitas di area dekat Areal Penggunaan Lain (APL), seperti perkebunan sawit.
“Semakin dekat dengan kawasan terganggu, densitas owa menurun. Hal ini menegaskan pentingnya hutan utuh bagi spesies yang lebih sensitif,” tambah Arif.
Meski keberhasilan ini patut diapresiasi, Arif menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan dari pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat.
“Hutan Wehea–Kelay menjadi contoh bagaimana kolaborasi multi pihak dapat menurunkan risiko deforestasi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan tetap menjaga fungsi ekologis,” ujarnya.
