National Media Nusantara
Pasuruan

Pembangunan Sekolah Rakyat di Kota Pasuruan Disorot Dampak Lingkungan

Pasuruan, Natmed.id — Proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di Jawa Timur senilai hampir Rp2 triliun menuai sorotan publik akibat keluhan warga sekitar terkait dampak debu, lalu lintas kendaraan berat, serta minimnya informasi selama pelaksanaan proyek di Kota Pasuruan.

Sorotan tersebut muncul saat Wakil Gubernur Lumbung Informasi Rakyat (Lira) Jawa Timur, Ayi Suhaya bersama tokoh pemuda Kota Pasuruan Zainul meninjau langsung lokasi pembangunan Sekolah Rakyat di pusat Kota Pasuruan, Kamis 22 Januari 2026.

Pembangunan Sekolah Rakyat Provinsi Jawa Timur 3 dikerjakan oleh PT Nindya SSPS KSO berdasarkan kontrak Nomor 630/SPK/Ga19.1/2025 dengan nilai Rp1.999.950.262.278 yang dialokasikan untuk lima daerah, yakni Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Kediri, Kota Kediri dan Kota Malang.

Dengan nilai kontrak tersebut, setiap lokasi pembangunan menyerap anggaran sekitar Rp400 miliar. Besarnya anggaran dinilai perlu diimbangi dengan keterbukaan informasi dan pengawasan ketat agar pelaksanaan proyek berjalan sesuai ketentuan.

Ayi Suhaya menegaskan, seluruh mitra yang terlibat dalam skema Kerja Sama Operasional wajib diumumkan kepada publik. Ia menyebut keterbukaan informasi merupakan amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

“Masyarakat berhak mengetahui siapa saja mitra dalam KSO ini, termasuk kontraktor dan penyedia material. Transparansi diperlukan agar mutu pembangunan tetap terjaga,” ujar Ayi.

Menanggapi kondisi tersebut, Ayik menyatakan dampak proyek seharusnya dikelola sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 17 Tahun 2021 tentang Analisis Dampak Lalu Lintas. Ia mendorong kontraktor segera melakukan pembenahan serta meminta aparat terkait melakukan pengawasan agar proyek berjalan tepat mutu dan tepat waktu.

Keluhan juga disampaikan warga sekitar lokasi proyek. Ahmad (48) mengatakan aktivitas kendaraan proyek menimbulkan debu yang mengganggu aktivitas harian warga di sekitar area pembangunan.

“Debunya cukup tebal, terutama siang hingga sore hari. Rumah jadi cepat kotor dan harus sering dibersihkan,” kata Ahmad.

Sementara itu, Siti Aminah (54) mengaku khawatir terhadap keselamatan pengguna jalan, khususnya anak-anak sekolah, akibat minimnya rambu peringatan di sekitar proyek.

“Truk besar keluar-masuk setiap hari, tapi rambu hampir tidak ada. Anak-anak lewat sini, kami khawatir terjadi kecelakaan,” ujarnya.

Related posts

Fatma Saifullah Yusuf Kunjungi UMKM dan Sekolah Rakyat di Pasuruan

Sahal

Ratusan Pengemudi Ojol Demo di DPRD Kota Pasuruan Karena Motor Mbrebet Setelah Isi BBM di SPBU

Sahal

Koperasi Merah Putih Dongkrak Prestasi, Pemkab Pasuruan Sabet Dua Kategori Surya Award

Sahal

You cannot copy content of this page