National Media Nusantara
Nasional

Pemkab Lebak Harapkan Karya Jurnalistik Kemah Budaya Jadi Basis Kebijakan Daerah

Teks: Pemkab Lebak bersama peserta Kemah Budaya HPN 2026

Lebak, Natmed.id – Pemerintah Kabupaten Lebak berharap karya jurnalistik yang dihasilkan peserta Kemah Budaya Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dapat menjadi rujukan dan basis pertimbangan dalam perumusan kebijakan daerah, khususnya terkait pelestarian budaya dan pembangunan berkelanjutan di wilayah adat Baduy.

Harapan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Lebak, Iyan Fitriyana, saat menyambut peserta Kemah Budaya HPN 2026 di Pendopo Museum Multatuli, Rangkasbitung, Jumat, 16 Januari 2026.

“Atas nama Bupati Lebak, kami menyampaikan terima kasih kepada PWI yang telah menetapkan Kabupaten Lebak sebagai lokus Kemah Budaya HPN 2026. Kami berharap karya-karya jurnalistik yang lahir dari kegiatan ini dapat menjadi bahan refleksi dan rujukan kebijakan daerah,” kata Iyan.

Ia menilai, kehadiran insan pers dalam Kemah Budaya tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan memiliki nilai strategis bagi pembangunan daerah melalui kerja-kerja jurnalistik yang mendalam dan berpihak pada kepentingan publik. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Lebak selama ini merasakan kontribusi nyata PWI dalam berbagai situasi.

Iyan menyinggung peran PWI pada masa pandemi Covid-19 2020–2021, ketika pers berperan aktif mengedukasi masyarakat mengenai vaksinasi, protokol kesehatan, dan mitigasi krisis di tengah keterbatasan fasilitas dan tenaga kesehatan.

“Dalam kondisi penuh keterbatasan, PWI hadir bersama pemerintah. Begitu pula saat terjadi bencana dan dalam upaya penguatan literasi masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran pers dalam membangun budaya literasi di Lebak, mulai dari lingkungan sekolah, pesantren, perguruan tinggi, hingga komunitas. Menurutnya, peningkatan budaya membaca dan menulis merupakan fondasi pembangunan sumber daya manusia.

Dalam konteks Kemah Budaya, Iyan menyebut masyarakat Baduy memiliki nilai kehidupan yang kaya dan layak dibaca dari berbagai perspektif. Ia menilai kearifan Baduy mencerminkan relasi sosial, kemanusiaan, dan nilai transendental yang kuat, meski tanpa simbol formal keagamaan.

“Kami bersyukur insan pers hadir sebagai ‘guru’ yang membaca dan menuliskan Baduy dari sudut pandang agama, budaya, sosiologi, pemerintahan hingga ekonomi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Departemen Seni, Musik, Film, dan Budaya PWI Pusat Ramon Damora mengatakan Kemah Budaya HPN 2026 merupakan terobosan baru dalam sejarah HPN yang telah berlangsung lebih dari empat dekade. Kegiatan ini, menurutnya, bukan hanya peliputan, tetapi ruang belajar langsung dari masyarakat adat Baduy.

Ramon memastikan seluruh karya peserta, baik laporan jurnalistik, feature, cerpen, maupun puisi, akan disebarluaskan melalui jaringan PWI di seluruh Indonesia serta dibukukan dan diluncurkan pada puncak HPN 2026 di Serang, Banten, 9 Februari 2026.

Kemah Budaya HPN 2026 dijadwalkan berlangsung selama dua hari di wilayah adat Baduy Luar dan menjadi bagian dari rangkaian HPN 2026 yang dipusatkan di Provinsi Banten.

Related posts

Multatuli Menunggu Terus Didengar

Aminah

Terbang ke Kaltim, Jokowi Resmikan Tol Balikpapan – Samarinda

Phandu

Probolinggo Mantapkan Identitas Kota Mangga Lewat Festival Tahunan

Sahal

You cannot copy content of this page