National Media Nusantara
Diskominfo Kaltim

Keterbukaan Publik dan Kepemimpinan Positif Ditekankan di KPDK Kaltim

Samarinda, Natmed.id – Kursus Pengelola Dewan Kerja (KPDK) Kwartir Daerah Pramuka Kalimantan Timur membahas pentingnya kepemimpinan sehat dan keterbukaan publik. Kegiatan yang berlangsung di Samarinda pada Kamis, 28 Agustus 2026 menghadirkan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kaltim sekaligus Wakil Ketua Bidang Kehumasan dan Informatika Kwarda, Muhammad Faisal, dengan tema Style of Leadership.

Teks: Kepala Diskominfo Kaltim sekaligus Wakil Ketua Bidang Kehumasan Kwarda Pramuka Muhammad Faisal, saat membawakan materi Style of Leadership dalam KPDK Kwarda Kaltim

Faisal melihat kepemimpinan sebagai dasar penting yang harus dipahami kader sejak dini. Pramuka adalah wadah pengkaderan generasi muda yang dipersiapkan untuk memimpin, baik di lingkup kecil maupun pada posisi strategis. Menurutnya, kepemimpinan bukan hanya soal mengatur orang lain, tetapi juga kemampuan memimpin diri sendiri dengan integritas, kejujuran, dan tanggung jawab

“Saya berharap mereka termotivasi untuk belajar dan menjadi pemimpin yang baik di eranya nanti,” ucapnya.


Dalam sesi ini, Faisal mengenalkan tujuh gaya kepemimpinan. Pertama, otoriter, di mana pemimpin memegang penuh keputusan tanpa melibatkan anggota. Model ini efektif saat darurat, namun bisa menimbulkan jarak dengan bawahan.

Kedua, demokratis, yang memberi ruang partisipasi dan membangun rasa memiliki, meski proses keputusan biasanya lebih lama.

Ketiga, transaksional, yang memiliki sisi positif dan negatif. Positif ketika digunakan sebagai motivasi lewat penghargaan, namun berbahaya bila semua hal diukur dengan uang.

Keempat, transformasional, yang menginspirasi dan mendorong perubahan positif, biasanya lewat keteladanan.

Kelima, laissez-faire, yang memberi keleluasaan penuh kepada bawahan, cocok bagi tim profesional, tetapi bisa kehilangan arah jika anggota masih butuh bimbingan.

Keenam, karismatik, yang mengandalkan pengaruh pribadi dan daya tarik, cepat menggerakkan massa, tetapi bisa menimbulkan ketergantungan.

Ketujuh, partisipatif, yang lebih menekankan keterlibatan aktif semua anggota dalam pengambilan keputusan.

Faisal mendorong peserta untuk memberi contoh nyata dari tiap gaya kepemimpinan. Cara ini membuat peserta aktif sekaligus kritis terhadap praktik sehari-hari di lingkungannya.

“Ketika bisa memberi contoh berarti paham, tinggal diarahkan supaya tidak meniru gaya yang masih kurang,” katanya.

Topik kemudian diarahkan pada keterbukaan publik. Transparansi dipandang sebagai syarat mutlak pemimpin masa kini. Indeks keterbukaan publik Kaltim pada 2024 berada di posisi tiga nasional. Program berikutnya akan menyasar sekolah dan kampus pada 2025 agar budaya transparansi tertanam sejak dini.

“Jangan menunggu lulus baru diajari terbuka, harus dari dalam,” ujarnya.

Faisal juga menyinggung sistem pengaduan publik. Saat ini sudah ada SP4N Lapor di tingkat nasional, sementara Pemprov Kaltim tengah menyiapkan aplikasi Sakti yang kelak terhubung dengan sistem tersebut. Dengan begitu, laporan masyarakat dapat dipantau lebih cepat dan transparan.

Related posts

Dialog Pendidikan, Pemprov Kaltim Paparkan Gratispol dan Jospol

Nanda

Bapenda Kaltim Catat Penerimaan Rp80 Miliar Selama Program Pemutihan

Ellysa Fitri

Tingkatkan Kinerja OPD, Akmal Malik Rotasi Delapan Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama

Irawati

You cannot copy content of this page