Samarinda, Natmed.id – Perayaan Hari Raya Idul Fitri 2026 telah usai, namun bagi para pejuang aspal di Kota Samarinda, babak baru perjuangan ekonomi baru saja dimulai.
Seiring dengan kembalinya aktivitas normal masyarakat, para pengemudi ojek online (ojol) mulai merasakan dampak signifikan berupa penurunan pendapatan yang drastis.
Adjie Tegar Pangestu, seorang pengemudi ojol yang sehari-hari menggantungkan hidup di jalanan Kota Tepian, mengungkapkan bahwa masa-masa panen selama Ramadan dan Lebaran kini telah berganti menjadi periode yang ia sebut sebagai masa surut.
Penurunan pendapatan ini bahkan menyentuh angka 50 persen jika dibandingkan dengan pekan-pekan sebelumnya.
Selama masa Lebaran, tingginya mobilitas warga dan kedermawanan pengguna jasa menjadi berkah tersendiri. Namun, memasuki akhir Maret ini, angka-angka di aplikasi mulai menunjukkan tren penurunan yang nyata.
“Kalau bagiku ya orderan mau itu Maxim, mau kurir, mau apa itu ya lagi surutlah. Memang beda sih, soalnya pas sebelum Lebaran itu rasanya beda. Kemarin bisa dapat sehari bisa sampai Rp500 ribu. Kalau sekarang ya standar-standar ajalah Rp200 ribu sampai Rp300 ribu,” ujar Adjie saat diwawancara pada Minggu, 29 Maret 2026.
Bagi Adjie, penurunan hingga setengah dari pendapatan biasanya adalah tantangan besar, mengingat kebutuhan hidup setelah Lebaran yang tetap tinggi.
Selain jumlah orderan yang berkurang, hilangnya skema tarif Lebaran menjadi penyebab utama menyusutnya penghasilan.
Saat Lebaran, bahkan untuk jarak tempuh yang sangat dekat, pengemudi masih bisa mendapatkan margin keuntungan yang layak. Kini, setiap kilometer harus diperjuangkan dengan nilai yang jauh lebih kecil.
“Soalnya harganya diturunin lagi. Kayak anggap aja kalau yang dekat biasanya Rp10 ribu kan, kalau pas kemarin itu masih bisa 15, bisa 20 gitu. Itu mau dekat, mau cuma ke depan gang aja bisa, cuma ya dapatnya kecil aja sih sekarang,” keluhnya.
Adjie juga memberikan analisis menarik mengenai bagaimana lokasi sangat menentukan nasib seorang pengemudi. Menurutnya, driver yang berada di area satelit seperti Tenggarong atau pinggiran Samarinda memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang bertahan di jantung kota.
“Semua itu sikluslah, mau sepi apa nggaknya itu siklus. Kadang orderan itu malah nggak ada sama sekali sehari, satu hari full. Kecuali kalau kamu tinggalnya di kota masih bisa, kalau kamu tinggalnya kayak dari Tenggarong, dari mana itu, hoki-hokian kalau ada,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa terkadang ada satu pesanan jarak jauh yang bisa menyelamatkan hari mereka, namun hal itu tidak bisa selalu diandalkan.
“Itu tergantung kalau misalnya kita dapatnya dari Tenggarongkah, dapat dari Mahakamkah, itu bisa aja sekali jalan dapat 50 (ribu), sisanya masih bisa nyari yang kecil-kecil,” tambahnya.
Menghadapi situasi yang sedang tidak menentu, Adjie memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Ia menerapkan strategi manajemen waktu yang ketat untuk memastikan target harian minimal tetap tercapai. Kuncinya adalah durasi on bid (aktif di aplikasi) yang lebih lama dari biasanya.
“Yang penting rajin aja. Kalau mau targetkan sehari berapa-berapa, yang penting on dari pagi sampai ketemu malam jam 10-an lah mentok-mentok, itu ramai lah,” kata Adjie.
Meskipun pendapatan tidak pasti dan risiko di jalanan mengintai setiap saat, Adjie tetap mensyukuri profesinya. Baginya, fleksibilitas adalah nilai tambah yang membuat pekerjaan ini tetap dicintai meskipun sedang dalam masa sulit.
“Yang penting semangat aja sih kalau kerja. Ojol itu udah pekerjaan paling enak, cuma risikonya gajinya nggak pasti aja sama risiko di jalan itu sering. Dah itu aja,” pungkasnya.
