Samarinda, Natmed.id – Menjelang masuknya bulan Ramadan, suasana di Kuburan Muslimin di Jalan KH. Abul Hasan tampak lebih ramai dari biasanya. Sepanjang gang menuju pemakaman pedagang bunga musiman mulai bermunculan, melayani warga yang datang berziarah dan membersihkan makam keluarga.

Salah satunya Ratna (35) pedagang bunga tabur dan kembang rampai yang telah puluhan tahun berjualan di kawasan pemakaman tersebut. Ramadan menjadi momentum paling ramai sepanjang tahun bagi para pedagang bunga makam.
“Kalau hari biasa sepi, paling setahun sekali ini saja ramainya. Biasanya mulai Jumat sampai Rabu sebelum puasa,” ungkap Ratna saat ditemui di tempat jualan , Senin 16 Februari 2026.d
Menurutnya, puncak keramaian biasanya terjadi sehari sebelum puasa dan saat libur. Warga datang silih berganti sejak pagi hingga sore hari, terutama selepas waktu salat.
“Pagi sama sore paling ramai. Kalau siang panas, orang jarang datang. Biasanya jualan sampai jam enam sore,” terangnya.
Selain itu, di lapaknya, ia menjual bunga tabur, kembang rampai, hingga air untuk keperluan ziarah. Harga bunga rapai dibanderol Rp20 ribu, sementara kembang tabur dijual 3 bungkus Rp10 ribu.
“Ngambilnya Rp15 ribu, dijual Rp20 ribu. Kalau hujan bunga rampai cepat rusak, tidak bisa disimpan,” urainya.
Selain bunga, ia juga menjual air untuk keperluan ziarah. Dua botol air ia jual Rp5 ribu, meski terkadang pembeli menawar lebih murah.
“Kalau dua Rp5 ribu. Kalau satu Rp3 ribu,” katanya sambil tersenyum.
Meski keuntungan per hari tidak menentu, Ratna mengaku tetap bersyukur. Dalam sehari, ia bisa memperoleh keuntungan bersih ratusan ribu rupiah, tergantung ramainya pengunjung.
“Kadang untungnya beda-beda, ada yang lima ratus ribu, kadang kurang. Alhamdulillah saja,” ungkapnya.
Bagi dia, berdagang bunga di pemakaman bukan sekadar mencari penghasilan musiman. Pekerjaan ini merupakan warisan keluarga yang telah ia jalani sejak kecil.
“Dari mama, saya dari SD sudah ikut jualan di sini. Dulu masih pakai lampu minyak, belum ada listrik,” kenangnya.
Lapak yang ia tempati saat ini merupakan milik pribadi yang ia siapkan sendiri. Ia mengaku tidak dikenakan biaya sewa dan hanya berjualan di momen tertentu, seperti menjelang Ramadan dan Lebaran.
“Kalau hari biasa enggak jualan. Nanti sambung lagi pas Lebaran, biasanya seminggu ramai lagi,” ujarnya.
Di luar musim ziarah, ia menjalani kehidupan sederhana sebagai ibu rumah tangga. Suaminya bekerja sebagai pembersih sampah di caffe, sementara ia fokus mengurus keluarga.
“Kalau bukan musim begini, saya di rumah saja. Jualan ini cuma setahun sekali,” katanya.
Menjelang sore, lapak-lapak bunga di Kuburan Muslimin terus dipadati warga. Aroma bunga tabur bercampur dengan lantunan doa, menandai tradisi ziarah yang terus hidup setiap menyambut bulan suci.
