Samarinda, Natmed.id – Masjid Shiratal Mustaqiem konsisten menghidupkan tradisi berbuka puasa bersama dengan sajian bubur peca selama bulan Ramadan. Tradisi memasak bubur peca ini telah berlangsung secara turun-temurun dan diperkirakan sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Setiap sore menjelang waktu berbuka, suasana masjid tua yang berada di Samarinda Seberang itu dipenuhi jamaah. Tidak hanya warga sekitar, sejumlah masyarakat dari wilayah lain di Samarinda juga datang khusus untuk merasakan atmosfer Ramadan yang berbeda.
Eka, salah satu jemaah yang datang bersama keluarga, mengaku rutin berkunjung ke masjid tersebut setiap Ramadan. Meski tinggal di daerah Bengkuring ia rela menempuh jarak cukup jauh untuk berbuka di Masjid Shiratal Mustaqiem.
“Setiap tahun ke sini karena vibes-nya beda. Ramadan di sini lebih terasa, suasananya mengingatkan waktu dulu di kampung,” ujar Eka.
Menurutnya, suasana masjid yang masih kental dengan tradisi membuat Ramadan terasa lebih bermakna, terutama untuk mengenalkan nilai-nilai budaya kepada anak-anak.
“Di kota biasanya buka puasa bareng, habis itu bubar. Kalau di sini, suasananya hidup. Ada tradisi, ada kebersamaan. Ini penting untuk dikenalkan ke anak-anak,” katanya.
Selain suasana, bubur peca menjadi daya tarik utama. Eka selalu ingat dimana ia pertama kali mencicipi bubur peca di masjid tersebut dan langsung terkesan dengan cita rasanya yang berbeda.
“Unik buburnya kuning, beda dengan pada biasanya yang berkuah. Topping-nya juga ganti-ganti, hari ini telur, besok bisa udang. Jadi selalu ada yang ditunggu,” ungkapnya.
Pelaksanaan buka puasa bersama di masjid ini juga melibatkan puluhan remaja masjid. Ketua Ikatan Remaja Masjid Shiratal Mustaqiem Syahril mengatakan para remaja secara sukarela membantu persiapan berbuka setiap hari.
“Yang tergabung sekitar 40 orang, kami bantu-bantu dari habis Asar, mulai dari persiapan sampai pembagian makanan,” jelas Syahril.
Ia menuturkan keterlibatan remaja masjid menjadi bagian dari upaya menanamkan kepedulian dan kecintaan terhadap masjid sejak usia muda.
“Kami niatkan ibadah. Senang bisa ikut terlibat, dapat pahala, dan bisa menjaga tradisi masjid tetap hidup,” pungkasnya.
Tradisi bubur peca di Masjid Shiratal Mustaqiem hingga kini tidak hanya menjadi sajian berbuka, tetapi juga simbol kebersamaan, sejarah, dan syiar Islam yang terus dirawat oleh lintas generasi.
