Samarinda, Natmed.id – Arjuna tiak bisa menyembunyikan raut wajah duka saat memandangi sisa-sisa rukonya yang kini rata dengan tanah.
Pria yang telah menggantungkan hidupnya di Pasar Segiri sejak tahun 1993 itu harus menelan kenyataan pahit setelah api menghanguskan tempat usahanya dalam waktu singkat, Kamis dini hari.
Bagi Arjuna, kebakaran ini bukan sekadar hilangnya bangunan fisik, melainkan lumpuhnya sumber penghidupan yang telah ia bangun selama 33 tahun.
Arjuna merupakan salah satu pedagang senior yang rukonya berada tepat di titik pusat kejadian. Ia tidak menyangka usaha yang ia rintis dari nol itu kini harus kembali ke titik nadir.
Dalam keterangannya, Arjuna merinci bahwa kerugian yang ia alami mencapai angka yang sangat signifikan. Sebagai penyuplai komoditas udang dan es batu berskala besar, ia kehilangan mesin-mesin pendingin (freezer) yang menjadi jantung bisnisnya.
“Mungkin saya rugi 100-an juta karena saya jual es batu juga. Itu habis semua itu. Rukonya habis, bangunannya habis, terus freezer-freezer-nya kena juga,” tutur Arjuna saat diwawancarai awak media pada Kamis, 26 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa kecepatan api membuat upaya evakuasi barang menjadi sangat terbatas. Dari sekian banyak aset yang dimiliki, hanya sedikit yang berhasil diselamatkan oleh warga sekitar.
“Ada aja sebagian diangkat tadi anak-anak, ada beberapa kulkas saja yang diangkat,” tambahnya.
Merespons pernyataan Wali Kota Samarinda Andi Harun mengenai kendala anggaran untuk renovasi ruko permanen, Arjuna mencoba menawarkan solusi jalan tengah.
Ia menyadari bahwa pembangunan gedung permanen membutuhkan dana besar dan waktu yang tidak sebentar, namun ia memohon adanya bantuan darurat agar aktivitas dagang bisa segera dimulai kembali.
“Makanya tadi saya tanyakan sama Pak Wali, gimana ruko Pak? Karena ruko kena dampak juga. Dia bilang itu tidak bisa karena anggarannya besar kan. Makanya saya minta supaya bisa digantikan atap aja dulu. Yang penting ada atap supaya tidak kena hujan sama panas,” urainya.
Arjuna menegaskan bahwa bagi para pedagang seperti dirinya, kepastian untuk bisa kembali menempati lahan adalah hal yang paling mendesak.
“Gimana supaya pemerintah supaya cepat merenov kembali untuk bisa ditempati jualan, karena usaha kita kan di situ aja usahanya,” tegas Arjuna.
Sebagai saksi mata di lokasi, Arjuna juga memberikan catatan kritis mengenai kendala penanganan api di Pasar Segiri. Menurutnya, meskipun personel pemadam kebakaran telah dikerahkan secara maksimal, faktor geografis dan kepadatan pasar menjadi penghalang utama.
“Kalau alat pemadam maksimal aja, cuma aksesnya yang tidak bisa karena segala penjuru dia tertutup. Apalagi pas jam segitu kan sudah betul-betul padat,” katanya.
Namun, Arjuna juga mengakui adanya kelemahan dari sisi pedagang terkait ketersediaan alat proteksi kebakaran mandiri.
Saat dikonfirmasi mengenai keberadaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di setiap ruko, ia menjawab bahwa hal tersebut belum menjadi standar di sana.
“Itu tidak ada, itu masing-masing aja itu,” jelasnya.
Kehilangan ini terasa semakin berat mengingat omzet harian Arjuna yang cukup besar. Dari usaha udang dan es batu untuk kebutuhan nelayan serta pedagang daging, ia biasanya bisa mengantongi pemasukan di atas Rp10 juta per hari.
Kini, pemasukan tersebut hilang seketika, dan ia terpaksa mengandalkan tabungan yang tersisa untuk menghidupi keluarganya.
“Tetap di sini mas, karena memang usahanya di sini, tidak ada yang lain. Mau permanen mau sementara tidak masalah, yang penting bisa ditempati jualan aja dulu,” pungkasnya.
