Nasional

Terobosan Migas Berbuah Manis, Lifting Minyak Lampaui Target APBN

Teks: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di sela peresmian RDMP Balikpapan oleh Presiden Prabowo Subianto, Senin 12 Januari 2026.

Balikpapan , Natmed.id- Upaya panjang pemerintah membenahi sektor energi nasional mulai menunjukkan hasil nyata. Setelah satu dekade lifting migas selalu gagal mencapai target, tahun 2025 menjadi titik balik penting. Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir, lifting minyak nasional melampaui target APBN, menembus angka 605 ribu barel per hari. Capaian ini melonjak dari tahun 2024 yang berada di level 580 ribu barel per hari.

Peningkatan tersebut bukan datang secara instan. Pemerintah terus melakukan terobosan di berbagai lini. Sumur-sumur idle diaktifkan kembali, sumur tua dioptimalkan dengan sentuhan teknologi, percepatan tender lapangan migas baru dilakukan, hingga kebijakan mandatory B40 digulirkan secara konsisten.

“Sebagai pembantu Presiden, kami telah bertekad pantang beristirahat sebelum energi Indonesia berdaulat. Pantang memejamkan mata sebelum energi kita benar-benar swasembada,” tegas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada peresmian RDMP Balikpapan oleh Presiden Prabowo Subianto di halaman Kantor PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit V Balikpapan, Senin 12 Januari 2026.

Di tengah upaya besar tersebut, proyek strategis nasional Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan juga tidak luput dari dinamika. Kilang yang seharusnya rampung pada Mei 2024 itu sempat tertunda akibat insiden kebakaran pada salah satu bagiannya. Penyebabnya pun sempat menimbulkan tanda tanya.

“Saya tidak mengerti ini terbakar karena dibakar atau karena faktor lain,” ujar Bahlil blak-blakan.
Pada Agustus 2024, ia memerintahkan Inspektur Jenderal Kementerian ESDM melakukan investigasi menyeluruh. Hasilnya menguak fakta mengejutkan.

“Ternyata ada udang di balik batu. Masih ada pihak-pihak yang tidak rela kalau Indonesia punya cadangan dan swasembada energi, agar kita terus impor, impor, dan impor. Ini akan kita selesaikan, tidak lama lagi,” katanya tegas.

RDMP Balikpapan sendiri merupakan kilang terbesar di Indonesia. Proyek ini meningkatkan kapasitas produksi dari sebelumnya 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari. Produk yang dihasilkan pun telah memenuhi standar Euro V, lebih ramah lingkungan, sekaligus bernilai tinggi.

Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, negara diperkirakan dapat menghemat devisa hingga Rp60 triliun per tahun dari impor BBM, sekaligus menambah pasokan minyak sebesar 100 ribu barel per hari. Produksi bensin akan bertambah sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun.

Saat ini, konsumsi bensin nasional mencapai sekitar 38 juta kiloliter per tahun, sementara produksi domestik berada di kisaran 14,25 juta kiloliter. Dengan tambahan produksi dari RDMP Balikpapan, impor bensin diproyeksikan turun drastis menjadi sekitar 19 juta kiloliter per tahun. Lebih jauh, tahun ini Indonesia mencatat tonggak penting lainnya: tidak ada lagi impor solar.

Kebutuhan solar nasional sekitar 38 juta kiloliter dipenuhi melalui optimalisasi program mandatory B40 dan B60, ditambah pasokan dari RDMP Balikpapan sekitar 5 juta kiloliter per tahun. Program B40 dan B60 merupakan kebijakan pencampuran biodiesel berbasis minyak sawit untuk solar jenis CN 48. Sementara untuk solar CN 51, impor masih tersisa sekitar 600 ribu kiloliter per tahun dan ditargetkan tuntas pada semester kedua tahun ini.

“Semester dua ini akan kita bangun agar tidak impor lagi,” ujar Bahlil. Pemerintah juga sepakat RDMP Balikpapan akan meningkatkan produksi BBM dengan angka oktan tinggi, mulai RON 92, RON 95 hingga RON 98. Langkah ini dilakukan agar Indonesia tidak lagi bergantung pada impor dan badan usaha swasta membeli produk dalam negeri melalui Pertamina.

“Ini perintah konstitusi. UUD 1945 jelas mengamanatkan negara harus menyiapkan dan menguasai sektor strategis,” tegasnya.

Ke depan, Indonesia ditargetkan hanya mengimpor crude oil, bukan lagi BBM jadi. Bahlil pun menyadari kebijakan ini berpotensi menimbulkan resistensi dari pihak-pihak tertentu.

“Setelah ini saya yakin akan ramai, dianggap Menteri ESDM memotong jalur barang importir. Tapi tidak masalah, Pak Presiden. Demi Merah Putih, nyawa pun kita serahkan,” katanya lantang.

Secara ekonomi, peningkatan produksi dan hilirisasi energi melalui RDMP Balikpapan diperkirakan memberi dampak besar. Kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional diproyeksikan mencapai Rp514 triliun per tahun.

RDMP Balikpapan sendiri dibangun melalui kolaborasi lintas sektor, melibatkan BUMN, Kementerian ESDM, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Proyek ini menjadi simbol tekad pemerintah untuk membalik sejarah ketergantungan impor dan membawa Indonesia menuju era kedaulatan energi yang sesungguhnya.

Related posts

Terbang ke Kaltim, Jokowi Resmikan Tol Balikpapan – Samarinda

Phandu

Pemprov Jatim Dukung Rangkaian Hari Pers Nasional 2026

Sahal

Kementerian ESDM Dukung Pembangunan Smelter Titanium Pertama di Indonesia

Febiana

Leave a Comment