Samarinda

Tanggapi Kritik Pedas di Medsos, Andi Harun Tantang Debat

Teks: Wali Kota Samarinda Andi Harun Tanggapi Kritik Pedas Medsos Saat Hadir Pada Musrenbang RKPD Kota Samarinda, Rabu,1/4/26. (Natmed.id/Sukri)

Samarinda, Natmed.id – Wali Kota Samarinda Andi Harun memberikan respons menohok terhadap gelombang kritik di media sosial (medsos) yang membandingkan proyek besar pemerintah kota dengan permasalahan fasilitas pendidikan.

Dalam forum Musrenbang RKPD Kota Samarinda, Andi Harun secara khusus menanggapi narasi yang menyebut dirinya lebih mementingkan pembangunan Teras Samarinda dan Terowongan daripada menangani banjir di sekolah-sekolah.

Andi Harun meluruskan persepsi publik mengenai waktu pelaksanaan proyek-proyek besar. Ia menegaskan bahwa perencanaan Terowongan dan Teras Samarinda dilakukan saat kondisi APBD masih dalam posisi sehat, sebelum terjadinya kontraksi anggaran akibat kebijakan pusat dan situasi geopolitik.

“Ada yang kritik di TikTok, wali kota bisa bangun Teras Samarinda, bisa bangun terowongan, tapi enggak bisa perbaiki SMP yang banjir. Bos, kapan kita bangun terowongan? Kapan kita bangun teras? Bukan 2026! APBD kita saat itu belum terkontraksi,” ketus Andi Harun dengan nada tegas pada Rabu, 1 April 2026.

Menyoroti masalah banjir di SMPN 24 yang sempat viral, Wali Kota Andi Harun menjelaskan bahwa dirinya telah menerjunkan tim teknis yang menggunakan teknologi drone lidar untuk melihat topografi lahan.

Dari hasil kajian tersebut, ditemukan bahwa masalah utama bukanlah pada gedung sekolah, melainkan sumbatan pada drainase di sekitar area tersebut.
Ia mengkritik balik usulan yang hanya berbasis pengamatan permukaan tanpa perhitungan biaya yang matang.

“Ternyata penyebabnya hanya aliran air dari Bukit Pinang di depan itu tidak lancar sampai masuk ke dalam SMP. Coba saya terima sarannya. Oke kita pindahkan sekolahnya, kita beli tanah, kita bangun baru. Berapa puluh miliar beli tanahnya? Padahal yang harus diatasi adalah salurannya,” jelasnya.

Andi Harun menyayangkan pola kritik di media sosial yang menurutnya seringkali hanya mencari panggung politik tanpa menawarkan solusi nyata. Secara terbuka, ia menantang para pengkritik untuk berdiskusi secara langsung daripada hanya bersembunyi di balik layar ponsel.

“Coba berhadapan, panggil! Jangan cuma berani di medsos, panggil kita debat! Debat itu bukan berarti bertengkar, tapi berdebat secara dewasa,” tegas Andi Harun.

Ia menambahkan bahwa peran masyarakat memang untuk memberikan masukan, namun ia berharap masukan tersebut dilakukan dengan cara yang bermartabat dan memiliki basis argumen yang kuat.

Andi Harun mengajak para pengritik dan politisi muda untuk meneladani etika berpolitik para pendiri bangsa, seperti Bung Karno dan Bung Hatta, yang tetap menjaga silaturahmi meski berbeda pandangan politik secara tajam. Ia menyentil fenomena saat ini di mana kritik seringkali bercampur dengan ejekan yang tidak produktif.

“Tokoh-tokoh kita dulu, Bung Hatta sampai mengundurkan diri dari Wakil Presiden karena perbedaan visi ekonomi dengan Bung Karno, tapi silaturahminya tidak pernah terputus. Kita? Main TikTok, diajak berdebat, kabur,” pungkasnya.

Andi Harun menegaskan komitmennya untuk tetap fokus pada pembangunan yang berbasis hasil nyata (outcome oriented) meskipun di tengah tekanan anggaran dan hiruk-pikuk serangan media sosial.

Related posts

Polresta Samarinda Kerahkan 100 Personel untuk Operasi Zebra 2025

Aminah

Dinkes Kaltim Bedah Kasus Kematian Balita di Batuah, Alarm Keras Bahaya Bronkopneumonia pada Anak

Sukri

Wali Kota Andi Harun Resmi Luncurkan Bansos Nontunai 2025

Rhido