Samarinda

Tak Bisa Mudik, Wartawan di Samarinda Ini Temukan Makna Lebaran Bersama Warga Binaan

Teks: Wartawan Samarinda Adi Rizki Ramadhan Mengisahkan perjuangannya melewati perjuangan empat Idulfitri Tak Bersama Keluarga, Minggu,22/3/26 (Natmed.id/Sukri)

Samarinda, Natmed.id – Gema takbir yang membahana di seantero Kota Samarinda pada Idulfitri 2026 membawa refleksi mendalam bagi Adi Rizki Ramadhan.

Wartawan muda asli Cimahi, Jawa Barat, ini harus kembali mengubur keinginannya untuk pulang ke tanah kelahiran demi menunaikan dedikasi profesinya di Kalimantan Timur.

Bagi Adi, tahun 2026 menandai tahun keempat ia merayakan hari kemenangan jauh dari dekapan keluarga dan suasana khas Kota Tentara.

Meski rindu pada keluarga di Cimahi tak pernah benar-benar padam, ia mengaku mentalnya kini jauh lebih tangguh menghadapi kenyataan sebagai pejuang jarak di hari raya.

Mengelola emosi di tengah gegap gempita Lebaran bukanlah perkara mudah bagi seorang perantau yang terpisah pulau. Adi menceritakan bagaimana fase adaptasinya berubah dari tahun ke tahun.

Jika dahulu kesedihan sering kali menyergap tiba-tiba, kini ia telah menemukan formula untuk tetap stabil secara emosional.

“Tahun pertama, kedua, itu terasa banget sedihnya karena suasana nggak bisa dikontrol. Tapi sekarang, ini Lebaran keempat nggak pulang, perasaannya sudah lebih bisa di-handle,” ujar Adi saat diwawancarai pada Minggu, 22 Maret 2026.

Ia menyadari bahwa profesionalisme sebagai jurnalis menuntut pengorbanan waktu personal. Baginya, kedewasaan seorang perantau diuji saat ia mampu mengubah rasa sepi menjadi energi untuk tetap produktif memberikan informasi kepada masyarakat.

Strategi utama Adi untuk menghalau rasa rindu adalah dengan tidak membiarkan dirinya terjebak dalam kesunyian rumah kontrakan. Ia memilih untuk tetap terjun ke lapangan dan mencari sudut pandang berita yang memiliki kedalaman emosional.

Tahun ini, pilihannya jatuh pada suasana Idulfitri di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Di balik jeruji besi, Adi menemukan cermin kehidupan yang serupa dengan nasibnya.

Ia mengamati bagaimana para warga binaan menciptakan keluarga baru di dalam sel, saling menguatkan karena sama-sama tidak bisa bertemu keluarga inti di hari raya.

Melalui bidikan lensa dan catatannya, Adi merekam momen haru saat para narapidana saling bermaafan, membuktikan bahwa esensi Idulfitri tetap bercahaya bahkan di tempat yang paling terisolasi sekalipun.

Liputan ini memberinya perspektif bahwa meski ia tidak bisa mudik, ia masih memiliki kebebasan untuk berkomunikasi, sebuah kemewahan yang sangat terbatas bagi mereka yang sedang menjalani masa hukuman.

Meski disibukkan dengan agenda peliputan yang padat, Adi tetap menyisihkan waktu utama untuk pulang secara virtual. Di luar itu, kemajuan teknologi di tahun 2026 adalah penyelamat paling nyata bagi para pejuang jarak.

“Jalan satu-satunya cuma komunikasi. Lewat video call kita bisa lihat tatap muka, ekspresi, dan suasana keluarga di sana, meskipun cuma lewat layar,” tambahnya

Menurut Adi Rizki Ramadhan, menjadi wartawan di Samarinda bukan sekadar tentang mencari berita, melainkan tentang perjalanan menemukan arti rumah yang sesungguhnya.

Melalui tugasnya di Lapas, ia belajar bahwa Lebaran bukan tentang di mana kita berada, tapi tentang seberapa besar kita mampu mensyukuri setiap pertemuan, baik secara fisik maupun digital.

Related posts

Refleksi Ramadan Andi Harun di Haul Keluarga H Sarapping, Hidup Hanya Titipan

Sukri

Alumni Doktor Manajemen Pendidikan Unmul Siap Perkuat Dunia Pendidikan

Ellysa Fitri

Ponpes Al-Arsyadi 2 Hadir di Samarinda dengan Konsep Pendidikan Gratis

Adinda Febrianti