Pendidikan

SMPN 2 Samarinda Terapkan Sistem Daring Bergilir Hingga Pertengahan Mei

Teks: Kepala Sekolah SMPN 2 Samarinda Misradianto Saat Diwawancara Awak Media Pada Kamis, 2/4/26 (Natmed.id/Sukri)

Samarinda, Natmed.id – Menindaklanjuti musibah yang menimpa bangunan sekolah pada Rabu, 1 April 2026, SMPN 2 Samarinda mengambil langkah cepat untuk memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan.

Kepala SMPN 2 Samarinda Misradianto menyatakan bahwa pihak sekolah akan memberlakukan sistem pembelajaran daring (online) secara bergilir bagi sejumlah kelas.

Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi fisik bangunan yang terdampak, terutama pada gedung dua lantai yang mengalami kerusakan di bagian atas.

“Sehubungan dengan kondisi sekolah yang terkena musibah kemarin, kami dari sekolah mengambil sikap bagaimana kelangsungan pembelajaran di sekolah. Rencananya hari ini memang kami liburkan satu hari untuk koordinasi dengan seluruh warga sekolah,” ujar Misradianto saat diwawancarai awak media pada Kamis, 2 April 2026.

Misradianto menjelaskan bahwa penyesuaian jadwal akan dimulai secara efektif pada pekan depan. Mengingat adanya agenda penting bagi siswa tingkat akhir, pengaturan ruang dan waktu menjadi prioritas utama.

“Hari Senin, tanggal 6 sampai 14 April itu kita ada kegiatan TKA (Tes Kemampuan Akademik) untuk kelas 9. Untuk Kota Samarinda, kelas 7 dan kelas 8 memang diinstruksikan untuk daring,” jelasnya.

Namun, kebijakan daring ini tidak akan berakhir setelah TKA selesai. Pihak sekolah memutuskan untuk memperpanjang sistem ini bagi delapan kelas yang ruangannya terdampak langsung hingga situasi kembali kondusif.

“Setelah itu nanti rencananya siswa kami yang di delapan kelas itu akan kita daringkan bergantian sampai dengan pertengahan bulan Mei. Begitu siswa kelas 9 selesai ujian dan tidak turun lagi, baru semuanya bisa normal kembali,” tambah Misradianto.

Terdapat delapan kelas yang terdampak langsung oleh kerusakan bangunan, terdiri dari 2 kelas di tingkat VII, 3 kelas di tingkat VIII, dan 3 kelas di tingkat IX. Meskipun lantai dasar gedung tersebut secara teknis masih bisa digunakan, faktor keselamatan menjadi alasan utama pengosongan area tersebut.

“Karena bangunannya dua tingkat, tidak mungkin di bawah digunakan belajar sementara di atas ada perbaikan. Takutnya nanti ada risiko (kecelakaan), jadi sesuai saran wali kota juga, delapan kelas itu di-close dan anak-anak belajar daring,” tegasnya.

Pihak sekolah juga sempat mempertimbangkan opsi menumpang di sekolah lain, namun urung dilakukan karena kendala teknis dan koordinasi guru.

“Kalau kita mau pindah ke sekolah lain, belum tentu di sana ada ruangannya. Nanti malah merepotkan guru-guru kita yang harus mengajar ke sana kemari karena jauh. Jadi kita upayakan daring saja,” ujarnya.

Hingga saat ini, area terdampak masih dalam pengawasan pihak berwajib. Misradianto menyebutkan bahwa proses pembersihan dan perbaikan baru bisa dimulai setelah adanya surat resmi dari kepolisian.

“Pihak Polresta hari ini akan mengeluarkan SP2D pemberhentian pemeriksaan dan akan melepas garis polisi (police line). Kalau itu belum dilepas, kita tidak bisa masuk, bersih-bersih pun tidak boleh,” ungkapnya.

Setelah garis polisi dilepas, pihak sekolah akan segera melaporkan kondisi terbaru kepada Dinas Pendidikan untuk mempercepat proses rehabilitasi bangunan agar siswa dapat kembali belajar dengan nyaman.

Related posts

Tingkatkan Kualitas SDM, Infosatu.co Gelar Diklat Podcast Bareng Bapenda PPU

natmed

Modus Kecurangan UTBK Terungkap, Rektor Unmul Angkat Bicara

Ellysa Fitri

Malam Apresiasi Pemuda Samarinda Dorong Pendidikan Karakter dan Kepemimpinan

Aminah