Samarinda

Sembilan Tahun Menelan Rindu di Tepian Mahakam

Teks: Jasman, Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan Universitas Mulawarman (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Bagi sebagian orang Ramadan adalah tentang pulang, namun bagi Jasman mahasiswa semester 4 Magister Ilmu Lingkungan Universitas Mulawarman, Ramadan adalah tentang ketangguhan.

Tahun ini menandai kali kesembilan pria kelahiran Diha, Kabupaten Bima ini harus melewatkan sahur dan berbuka jauh dari pelukan hangat keluarga di Nusa Tenggara Barat.

Di perantauan Samarinda, riuh rendah suara keluarga saat berbuka digantikan oleh kesederhanaan meja kos.

“Alhamdulillah, perasaannya campur aduk. Ada rasa senang bertemu Ramadan lagi, tapi kangen rumah itu pasti ada,” ungkap Jasman.

Jika di Bima sana ia terbiasa menyantap sayur bening daun kelor dengan cocolan sambal khas Bima dan ikan asin hasil masakan sang ibu, di Samarinda ia harus lebih realistis.

Mencari daun kelor di Tepian Mahakam ternyata tak semudah memetiknya di halaman rumah sendiri. Akhirnya, telur dadar dan sayur sop buatan sendiri menjadi kawan setia saat sahur demi menjaga asupan dan isi kantong.

Meski jadwal kuliahnya sudah melonggar karena mata kuliah yang telah tuntas, Jasman tidak membiarkan waktunya terbuang sia-sia. Jarak ribuan kilometer antara Samarinda dan Bima ia pangkas melalui layar ponsel.

“Sudah video call kemarin sore. Orang tua pesan jaga kesehatan, jangan lupa sahur, dan tetap rajin ibadah walau jauh dari rumah,” ujarnya.

Video call menjadi jembatan pelepas lara. Sebuah ritual wajib bagi anak rantau untuk sekadar melihat wajah orang tua sebelum azan Magrib berkumandang, meski raga tak bisa bersua.

Sembilan tahun merantau tidak membuat Jasman kehilangan makna ibadah. Justru di tengah kesendirian dan jauh dari hiruk-pikuk tradisi kampung halaman, ia memasang target yang tak main-main, konsisten ibadah dan khatam Al-Qur’an minimal satu kali selama bulan suci ini.

Meskipun rindu sudah di ubun-ubun, Jasman memilih untuk tetap tegak di Samarinda. Libur Lebaran nanti ia putuskan untuk tidak pulang dulu. “Belum berani pulang, kuliahnya belum selesai,” selorohnya.

Jasman menitipkan pesan untuk sesama pejuang nasib di tanah rantau. Baginya, Ramadan bukan hanya soal menahan lapar, tapi soal memperbaiki diri dan saling menjaga sesama perantau.

“Jangan lupa saling dukung supaya suasana tetap hangat,” tutupnya.

Di bawah langit Samarinda, Jasman membuktikan bahwa meski rindu seringkali terasa pahit, ia bisa ditelan dengan rasa syukur dan segelas es buah dari pasar takjil dekat kampus.

Related posts

Atasi Penumpukan Pasien, Poli RSUD di Kaltim Diminta Tetap Beroperasi Sabtu

Aminah

Vaksinasi Khusus Santri, Polresta Samarinda Kolaborasi dengan Haji Sasa

Febiana

Polresta Samarinda Lakukan Pergeseran Tiga Perwira

Arum

Leave a Comment