Samarinda, Natmed.id – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Samarinda memberikan perhatian serius pada aspek psikologis warga senior melalui Program Sekolah Lansia.
Program ini tidak hanya dirancang sebagai sarana edukasi kesehatan fisik, tetapi juga sebagai langkah konkret untuk mengangkat harkat, martabat, dan kebahagiaan para lansia yang seringkali merasa terasing atau kurang produktif di masa senjanya.
Kepala Dinas DPPKB Kota Samarinda Deasy Evriyani menekankan bahwa kebahagiaan merupakan fondasi utama bagi kesehatan fisik seorang lansia.
Hal inilah yang melatarbelakangi kolaborasi antara pemerintah dan elemen masyarakat untuk menghadirkan ruang sosial yang positif bagi mereka.
“Lewat sekolah ini, kita ingin menciptakan lansia yang sehat melalui rasa bahagia terlebih dahulu, karena kalau hati senang, tubuh pun akan sehat,” ungkap Deasy usai peresmian sekolah tersebut pada Jumat, 10 April 2026.
Konsep utama yang diusung dalam program ini adalah Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif, dan Bermartabat (SMART). Tujuannya agar para lansia memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan tidak merasa menjadi beban bagi anak atau cucu mereka di rumah.
Deasy menjelaskan bahwa lansia yang berdaya akan memberikan dampak psikologis yang positif bagi keutuhan keluarga.
“Bahkan, dengan pengetahuan yang didapat dari sekolah ini, mereka tetap bisa berkontribusi secara nyata, seperti membantu mengasuh cucu dengan pola asuh yang benar atau berperan aktif dalam diskusi keluarga,” lanjutnya.
Selama kurun waktu tiga bulan dengan total 12 kali pertemuan, para peserta dibekali dengan kurikulum khusus yang menyasar fungsi kognitif dan mental.
Materi pencegahan penyakit degeneratif dikemas sedemikian rupa agar lansia tetap mampu berkomunikasi dan berinteraksi secara normal dengan lingkungan sosial mereka.
“Kita ingin di usia senja mereka tetap memiliki kualitas hidup yang baik, tetap bisa bercengkerama dengan nyambung, dan memiliki semangat hidup yang tinggi,” jelas Deasy.
Di tengah suasana penuh keakraban bersama para peserta, Deasy menyelipkan pesan mendalam bagi generasi muda di Samarinda.
Ia mengingatkan bahwa keberadaan Sekolah Lansia hanyalah sarana pendukung, sementara faktor utama kebahagiaan orang tua tetap berada di tangan anak dan keluarga masing-masing.
“Saya sangat berharap seluruh keluarga di luar sana memberikan perhatian ekstra kepada para lansia masing-masing. Hormatilah mereka sebagaimana mereka telah merawat kita dengan penuh kasih sayang,” pesannya.
Setelah menyelesaikan jenjang pendidikan dari S1 hingga S3 di Sekolah Lansia, para lulusan diharapkan tidak kembali ke pola hidup yang pasif.
Pemerintah telah menyiapkan wadah lanjutan agar interaksi sosial para lansia ini tetap terjaga demi stabilitas emosional mereka.
“Pascakelulusan, mereka kita arahkan untuk aktif di Posyandu Siklus Hidup yang tersedia di tiap kelurahan. Dengan begitu, mereka tetap punya komunitas, tetap bisa berkarya, dan yang terpenting, mereka merasa tetap ada dan dihargai oleh lingkungan sekitarnya,” pungkas Deasy.
Program Sekolah Lansia ini kini telah menjangkau berbagai titik strategis seperti Lempake, Pelita, hingga Sambutan, dan diproyeksikan akan terus bertambah seiring tingginya antusiasme masyarakat dalam memuliakan para lansia di Kota Tepian.
