Samarinda

Sampah Plastik Masih Penuhi Kuburan Muslimin Samarinda Jelang Ramadan

Teks: Peziarah Melintas Di Dekat Tumpukan Sampah Di Pemakaman Muslimin, Jalan KH Abul Hasan Samarinda, Senin 16 Februari 2026 (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Tradisi ziarah menjelang bulan suci Ramadan kembali menghidupkan kawasan pemakaman di Kota Samarinda. Namun di balik ramainya peziarah, persoalan klasik masih terus berulang: sampah plastik sisa bunga tabur dan botol air doa yang ditinggalkan begitu saja di area makam.

Teks: Spanduk Larangan Membuang Sampah Sembarangan Terpasang Di Pintu Masuk Pemakaman (Natmed.id/Aminah)

Kondisi itu terlihat di Kompleks Kuburan Muslimin, Jalan KH Abul Hasan. Meski papan imbauan agar membawa pulang sampah telah terpasang di pintu masuk hingga sejumlah titik pemakaman, sampah plastik masih berserakan di antara pusara, terutama pada musim ziarah jelang Ramadan.

Giman (72), pengurus sekaligus penggali kubur senior di pemakaman tersebut, mengaku kini lebih sering membersihkan rumput dan sampah dibanding menggali liang lahat. Maklum, area pemakaman sudah padat dan sebagian besar makam bertumpuk.

“Sekarang jarang gali kubur, lebih banyak bersih-bersih rumput sama sampah. Kuburannya sudah penuh, ini semua sudah bertumpuk,” kata Giman,
Senin 16 Februari 2026.

Ia menuturkan, hampir setiap hari berada di area pemakaman sejak pagi hingga sore. Namun pekerjaan itu dijalaninya tanpa bayaran tetap.

“Enggak ada upah, enggak ada gaji. Ya sama saja kita beramal di sini,” ujarnya singkat.

Menurut Giman, sampah plastik paling banyak ditemukan setelah hari-hari ramai ziarah. Peziarah kerap membawa bunga tabur dalam kantong kresek serta botol air bekas minuman untuk wadah air doa. Setelah berdoa, sebagian memilih meninggalkan sampah di atas makam atau di sela-sela pusara.

“Sudah ada tulisannya dilarang buang sampah, tapi ya namanya orang banyak, susah. Botol sama plastik banyak ditinggal di atas,” katanya.

Ia menyebut, sampah-sampah tersebut biasanya dibakar jika sudah menumpuk. Proses pembersihan dilakukan seadanya, bergantung ketersediaan obat pembasmi rumput yang biasanya disediakan pengurus lama.

“Kalau ada obatnya, disemprot. Kalau enggak, ya manual. Sampah juga kadang kita bakar-bakar sore,” tambahnya.

Giman sendiri sudah mengabdikan hidupnya di pemakaman itu sejak 1973, saat usianya belum genap 20 tahun. Perantau asal Jawa itu kini menetap di Samarinda bersama anaknya. Meski penglihatannya mulai terganggu akibat katarak, ia tetap datang setiap hari.

“Sudah tua mau kerja apa lagi. Selama masih bisa, ya dijalani saja,” ucapnya.

Ia berharap kesadaran peziarah semakin meningkat, terutama dalam menjaga kebersihan area makam. Menurutnya, kepadatan pemakaman yang tak lagi bisa diperluas membuat perawatan menjadi satu-satunya cara menjaga kelayakan area tersebut.

“Kalau diperluas sudah enggak ada tempat. Jadi ya perawatannya yang penting. Sampah jangan ditinggal,” katanya.

Related posts

Muktamar IX Zona Kalimantan Digelar di Samarinda, Rusman Ya’qub: Peserta Wajib Swab

natmed

MSI Group Buka Toko Baru di MT Haryono, Sediakan Skema Dua Minggu Bayar

Aminah

Ribuan Paket Makanan Bergizi Dibagikan ke Pelajar dan Warga Samarinda

Aminah

Leave a Comment