Samarinda, Natmed.id – Menghadapi siklus tahunan mudik Lebaran yang diprediksi akan mengalami peningkatan volume kendaraan dan penumpang, Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Perhubungan bersama Satlantas Polresta Samarinda meluncurkan strategi pengamanan terpadu.
Fokus utama tahun ini tidak hanya tertuju pada titik macet di darat, tetapi juga pada kelaikan armada transportasi sungai yang menjadi urat nadi penghubung antarwilayah di Kalimantan Timur.
Kasatlantas Polresta Samarinda Kompol La Ode Prasetyo menegaskan bahwa personel kepolisian akan disebar secara strategis di titik-titik yang secara historis menjadi pusat penumpukan kendaraan.
Berdasarkan evaluasi mendalam dari operasi tahun-tahun sebelumnya, terdapat tiga lokasi yang dikategorikan sebagai zona paling krusial.
“Kami telah memetakan tiga titik utama yang memerlukan perhatian ekstra, Simpang Muara, Jembatan Achmad Amins dan kawasan Gunung Manggah di Sungai Dama. Di lokasi-lokasi ini, personel tidak hanya berjaga, tetapi juga siap melakukan rekayasa lalu lintas secara instan jika terjadi kepadatan yang mengunci arus.”
Selain jalur utama, Kepala Dishub Samarinda, Hotmarulitua Manalu menyoroti tantangan di area pasar seperti Pasar Segiri dan Pasar Pagi.
Pihaknya meminta masyarakat untuk disiplin terhadap rambu larangan parkir agar tidak terjadi penyempitan jalan yang sering kali diperparah oleh aktivitas juru parkir liar.
Beralih ke sektor perairan, Dishub Samarinda telah memulai rangkaian ramp check atau pemeriksaan kelaikan armada di Dermaga Sungai Kunjang. Pemeriksaan ini menyasar kapal-kapal rute jarak jauh seperti Samarinda – Melak dan Samarinda – Long Bagun.
“Kami menemukan sejumlah life jacket yang kondisinya kurang terawat, mulai dari ritsleting yang macet hingga kotor. Kami sudah instruksikan pemilik kapal untuk segera melakukan pemeliharaan rutin,” ujar Manalu.
Ia menegaskan, penumpang dilarang keras duduk di atas atap karena dapat mengganggu stabilitas kapal, belajar dari evaluasi kecelakaan kapal KM Nur Akila F3 sebelumnya.
Selain itu, setiap kapal wajib menyediakan pelampung sebanyak 125% dari total kapasitas penumpang untuk menjamin keamanan ekstra dan mencegah kepanikan saat situasi darurat.
Terkait insiden rem blong yang sempat terjadi di Jembatan Mahakam beberapa waktu lalu, Dishub mengingatkan para sopir bus untuk tidak menggunakan klakson telolet secara sembarangan.
Secara teknis, penggunaan klakson tersebut dapat menguras pasokan udara pada sistem pengereman, yang berpotensi memicu kegagalan fungsi rem di medan berat.
Dengan langkah preventif di darat dan air, Pemerintah Kota Samarinda berharap angka kecelakaan yang pada tahun lalu berjumlah sekitar 5 hingga 6 kejadian dapat ditekan serendah mungkin.
Masyarakat diimbau untuk selalu memperbarui informasi jalur mudik dan memastikan kendaraan dalam kondisi prima sebelum melakukan perjalanan.
