Samarinda, Natmed.id – Samarinda Design Hub (SDH) membuktikan bahwa seni desain tidak hanya soal estetika, tetapi juga solusi nyata atas problematika kota.
Melalui pameran terbarunya, sang penggagas, Ramadhan S Pernyata menegaskan bahwa ribuan karya yang dihasilkan selama tujuh tahun terakhir adalah bentuk kritik sekaligus kontribusi konkret bagi wajah ibu kota Kalimantan Timur.
Berbeda dengan pameran seni pada umumnya, Ramadhan membawa standar akademis ke ruang publik. Ia menampilkan hasil riset desain yang menyasar sektor UMKM dan infrastruktur publik.
“Tugas-tugas ini gak cuma selesai di meja kerja saya aja. Contoh, bagaimana kalau pakle-pakle pentol di sini punya desain rombong yang keren? Kita desainkan. Kita desain tempat duduk untuk taman, hingga kendaraan amfibi untuk solusi banjir di Samarinda,” ujar Ramadhan saat diwawancara awak media pada Minggu, 12 April 2026.
Meski referensi teknis yang digunakan setara dengan standar kendaraan militer atau bus wisata double-decker di luar negeri, Ramadhan menyayangkan belum adanya respons dari pemangku kebijakan.
“Semua sudah digambar sejak 6 tahun yang lalu. Tapi sampai hari ini, tidak ada satupun gambar-gambar ini yang dipakai sama bapak ibu dinas. Katanya pusat peradaban, tapi jalannya masih butut,” sindirnya.
Pameran ini bukan sekadar wadah pajang. Sebagai kurator tunggal, Ramadhan menerapkan standar tinggi bagi siapa pun yang ingin terlibat.
Pada pameran ilustrasi sebelumnya, tercatat lebih dari 70 ilustrator dari 14 kota di Indonesia ikut berpartisipasi.
“Saya yang gagas, saya yang menentukan standar karyanya. Ada yang ngirim gambar karakter superhero, ya saya tolak. Oke sih gambar kamu keren, tapi masuk gak dengan tema Samarinda? Tugas saya nyeleksi itu aja,” jelasnya.
Salah satu poin paling tajam dalam pameran ini adalah kontras antara pengakuan internasional dan pengabaian lokal.
Di saat pemerintah daerah mulai membangun creative hub baru, Ramadhan mengingatkan bahwa inisiatif mandiri miliknya sudah jauh melampaui itu.
“Harusnya mereka (pemerintah) bisa menjawab. Dana pameran ini murni sendiri. Kalau ditanya dukungan real atau dana dari pemerintah? Gak ada. Sekarang ada Temindung Creative Hub atau TVRI Hub, tapi izin, saya lebih dulu. Mau ngapain bikin hub-hub? Saya udah duluan,” tambahnya.
Hebatnya, karya-karya dari budak menggambar Samarinda ini justru sudah diakui oleh institusi dunia.
“Katalog ini sudah saya kirim ke Library of Congress Washington dan Leiden University. Ketik saja nama saya di sana, keluar. Kalau di Temindung, gambarnya dan orangnya masih di Temindung, nggak ke mana-mana. Kami masih di Sempaja, tapi mitra kami sudah global,” tambahnya lagi.
Meski tengah berjuang melawan komplikasi penyakit jantung dan ginjal yang kronis, semangat Ramadhan untuk menjaga ekosistem kreatif di Samarinda tidak luntur.
Ia menitipkan pesan kuat bagi para desainer muda yang kini dihantui oleh kemajuan teknologi.
“Harapan saya sendiri, semoga saya semakin sehat dan bisa bikin yang lebih gede lagi. Kalau untuk partisipan, semangat berkarya walaupun AI merajalela. Amin,”
Melalui pameran ini, Ramadhan S. Pernyata tidak hanya meninggalkan warisan visual, tetapi juga sebuah standar moral bagi kota.
Bahwa menjadi Pusat Peradaban membutuhkan keberanian untuk membuktikan karya, bukan sekadar membangun gedung tanpa isi.
