Samarinda,Natmed.id – Bertualang hampir 15 tahun dengan jualan tahu tek tek di sepanjang Jalan Cendana, Sungai Kunjang, Kota Samarinda. Suara dentingan khas pedagang tahu tek-tek kerap terdengar selepas waktu Magrib hingga menjelang tengah malam.
Di balik gerobak sederhana itu, ada sosok perantau asal Sidoarjo bernama Sukoyo yang telah setia berjualan selama kurang lebih 15 tahun.
Sukoyo setiap hari berkeliling menjajakan tahu tek-tek di kawasan tersebut setelah salat Magrib. Aktivitasnya biasanya berakhir sekitar tengah malam. Namun khusus pada bulan Ramadan, ia bisa berjualan lebih lama hingga menjelang waktu sahur.
Ia sampaikan kepada media ini, konsistensinya berjualan selama bertahun-tahun bukan tanpa alasan. Tanggung jawab sebagai kepala keluarga menjadi motivasi utamanya untuk terus bekerja dan bertahan di perantauan.
“Lama tidaknya waktu tergantung Gusti Allah yang memberi. Soal konsisten ya karena kita laki-laki yang punya anak dan istri di rumah,” ungkap Sukoyo saat ditemui di sela-sela berjualan, waktu sahur Minggu dini hari, 15 Maret 2026.
Selama merantau di Samarinda Sukoyo mengaku sangat bersyukur karena usahanya mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Ia bahkan bisa pulang ke kampung halamannya di Sidoarjo setidaknya sekali dalam setahun bersama keluarga kecilnya.
“Setidaknya tiap tahun bisa pulang sekali ke kampung bareng keluarga. Anak sama istri juga bisa makan setiap hari. Itu sudah cukup, saya bangga sama diri saya,”ucapnya.
Saat ditanya mengapa ia tidak memilih berjualan di kampung halamannya saja agar tidak perlu bolak-balik, Sukoyo justru menilai Samarinda ini memberikan peluang usaha yang lebih baik dibandingkan daerah asalnya.
Menurutnya, kebiasaan masyarakat di Samarinda yang lebih sering membeli makanan di luar rumah menjadi salah satu alasan ia memilih bertahan di kota ini.
“Jualan di Samarinda ini enak, mas. Beda sama di Jawa. Orang-orang di sini rata-rata lebih pilih beli makanan di luar daripada masak di rumah,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat peluang usaha kuliner kaki lima di Samarinda cukup menjanjikan. Berbeda dengan di Jawa, di mana masyarakat cenderung membeli makanan hanya pada waktu tertentu.
“Kalau di Jawa, beli makanan biasanya kalau memang lagi ingin saja. Kalau di Samarinda enak untuk cari uang, nanti habisinnya di kampung,” ungkap Pak le Sukoyo sambil tertawa.
Menjelang mengakhiri, Bagi Sukoyo, bekerja di perantauan bukan hanya soal mencari penghasilan, tetapi juga tentang menjalani kehidupan dengan penuh syukur.
Ia mengaku menikmati perjalanan hidupnya sebagai pedagang kaki lima yang dapat menghidupi keluarga.
