Samarinda

Risiko Kesehatan CJH Samarinda Didominasi Hipertensi dan Kolesterol

Teks: Ketua Tim Surveilans dan Imunisasi Dinkes Samarinda Silfi Saat Wawancara, Rabu,1/3/26. (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji (CJH) di Samarinda menunjukkan mayoritas peserta masih bergulat dengan penyakit umum seperti kolesterol tinggi dan hipertensi.

Meski tergolong ringan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda menegaskan tahun ini proses penilaian istithaah (kesanggupan) kesehatan jauh lebih ketat, terutama bagi jemaah dengan penyakit kronis.

Ketua Tim Surveilans dan Imunisasi Dinkes Samarinda Silfi mengatakan hasil pemantauan sementara tidak menunjukkan adanya penyakit pemberat yang berisiko tinggi. Namun beberapa kondisi tertentu tetap bisa menjadi alasan penundaan keberangkatan.

“Untuk calon jemaah haji, kebanyakan hanya kolesterol dan hipertensi. Untuk penyakit-penyakit berat, insyaallah tidak ada,” ujar Silfi, Rabu 1 Maret 2026.

Meski demikian, aturan yang diperketat membuat sebagian CJH berpotensi ditunda jika kondisi laboratoriumnya tidak memenuhi standar. Diabetes menjadi salah satu yang diawasi ketat.

“Kalau jemaah diabetes dan HbA1c-nya tinggi, itu tidak bisa diberangkatkan. Tahun ini super ketat, jadi hanya jemaah dengan hasil lab yang benar-benar menunjang yang bisa berangkat,” tegasnya.

Dinkes juga menyiapkan skema khusus bagi CJH lanjut usia atau mereka yang membutuhkan pendampingan medis. Menurut Silfi, istithaah bukan hanya soal sehat, tetapi kemampuan beribadah dengan bantuan.

“Kalau lansia butuh pendamping, dia bisa menarik dari bawahnya. Misalnya jemaah pakai kursi roda, berarti harus ada orang yang mendampingi untuk membantu dorong. Itu bagian dari istithaah juga,” jelasnya.

Sementara itu, persiapan tenaga medis dan kebutuhan obat-obatan terus berjalan. Saat ini seluruh jemaah diwajibkan menyelesaikan rangkaian vaksinasi sebelum keberangkatan.

“Sekarang jemaah sedang dilakukan vaksin. Semua wajib vaksin meningitis, polio, dan vaksin COVID bagi yang belum pernah,” katanya.

Dinkes juga meminta CJH menjaga kondisi tubuh sedini mungkin mengingat perubahan cuaca ekstrem antara Indonesia dan Arab Saudi. Pola makan, terutama selama Ramadan, menjadi perhatian utama.

“Kemarin kami sudah imbau mengurangi makanan manis dan minuman es. Kondisi harus benar-benar fit. Kita juga sarankan vaksin flu supaya kalaupun kena flu, gejalanya tidak berat,” tutur Silfi.

Related posts

Distribusi Beras Tersendat, Haji Nasir Kritik Kebijakan HET

Paru Liwu

Pengusaha Walet Samarinda Peduli Covid-19

natmed

Wartawan Harus Mampu Bersaing

Phandu