Samarinda, Natmed.id– Kalimantan Timur terus melangkah mantap menuju kemandirian pangan. Di bawah kepemimpinan Gubernur H Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur H Seno Aji, fokus peningkatan produksi pertanian, khususnya padi. Fokus ini menjadi agenda strategis yang dijalankan secara serius dan terukur.
Komitmen itu terlihat dari berbagai kebijakan konkret, mulai dari optimalisasi lahan, penerapan teknologi pertanian modern, hingga penguatan sumber daya petani.
Hasilnya mulai nyata. Produksi beras Kaltim menunjukkan tren peningkatan signifikan dan menumbuhkan optimisme besar menuju swasembada pangan.
“Kalimantan Timur saat ini menempati peringkat dua besar Indeks Ketahanan Pangan Nasional 2025 dengan skor 80,82, masuk kategori sangat tahan. Artinya, kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi, baik dalam kondisi normal maupun saat bencana,” ujar Wakil Gubernur Seno Aji, Minggu 11 Januari 2026.
Meski demikian, tantangan yang dihadapi Kaltim tidak kecil. Keterbatasan lahan subur, produktivitas pertanian yang sebelumnya belum optimal, serta ketergantungan pasokan beras dari luar daerah menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan.
Menjawab tantangan tersebut, Pemprov Kaltim melakukan rekayasa lahan melalui penambahan kapur dan dolomit, serta menerapkan metode pertanian ramah lingkungan LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture).
Langkah ini terbukti efektif. Produktivitas padi yang sebelumnya hanya 3–4 ton per hektare kini meningkat menjadi 6–7 ton per hektare dalam sekali panen. Dampaknya signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan beras daerah.
“Dulu Kaltim hanya mampu memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan beras sendiri. Sekarang sudah mencapai 60 persen,” jelas Seno Aji.
Berdasarkan Data Angka Sementara Kerangka Sampel Area (KSA) BPS hingga 30 Desember 2025, produksi beras Kaltim tahun 2025 mencapai 158.442 ton, meningkat sekitar 9,11 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 145.209 ton. Luas panen juga naik dari 63.041 hektare pada 2024 menjadi 66.602 hektare atau meningkat 5,65 persen.
Ke depan, Pemprov Kaltim menargetkan perluasan lahan pertanian dari sekitar 33 ribu hektare menjadi 50 ribu hektare melalui program cetak sawah baru dan optimalisasi lahan eksisting.
“Kita hanya perlu menambah sedikit lagi untuk mencapai 100 persen kebutuhan beras Kaltim. Bahkan, bukan tidak mungkin kita bisa surplus,” tambah Wagub.
Namun, jalan menuju swasembada pangan bukan tanpa hambatan. Perubahan iklim, ancaman bencana alam, fluktuasi harga pangan, keterbatasan air dan infrastruktur, hingga pertumbuhan penduduk yang melampaui kapasitas lahan menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
Isu regenerasi petani juga menjadi perhatian serius. Untuk itu, Pemprov Kaltim mendorong keterlibatan generasi muda melalui Brigade Pangan Pemuda Tani Indonesia dan program Petani Milenial.
Dukungan diberikan dalam bentuk insentif, bantuan bibit dan pupuk, serta pemanfaatan alat dan mesin pertanian modern.
“Ketahanan pangan bukan sekadar angka statistik. Ini adalah kerja bersama antara pemerintah, petani, dan seluruh pemangku kepentingan agar Kaltim benar-benar berdaulat pangan dan masyarakatnya sejahtera, sejalan dengan visi Kaltim Sukses Menuju Generasi Emas,” tutup Seno Aji.
