National Media Nusantara
Nasional

Pramono Bantah Gunakan Cara Lama Tangani Banjir Jakarta

Teks: Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat meninjau Kali Cakung Lama

Jakarta, Natmed.id – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membantah tudingan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih menggunakan cara lama dalam menangani banjir di Ibu Kota. Kritik ini muncul menyusul banjir yang melanda ratusan RT dan puluhan ruas jalan di Jakarta sejak Kamis 22 Januari 2026.

Pramono menegaskan, di bawah kepemimpinannya, Pemprov DKI justru berani mengambil langkah tidak populer dengan melakukan normalisasi sungai secara masif dari hulu hingga hilir sebagai solusi jangka menengah dan panjang penanganan banjir.

“Sebenarnya saya tidak mengulang hal yang lama. Termasuk untuk normalisasi Ciliwung, normalisasi Krukut, hingga normalisasi Kali Cakung Lama itu belum pernah dilakukan secara menyeluruh sebelumnya,” kata Pramono, Jumat 23 Januari 2026.

Politikus PDI Perjuangan itu mengakui bahwa normalisasi sungai merupakan kebijakan berisiko tinggi, baik dari sisi politik maupun anggaran. Pasalnya, kebijakan tersebut menuntut relokasi warga yang bermukim di bantaran sungai ke rumah susun sewa, yang kerap memicu resistensi sosial di lapangan.

Namun demikian, Pramono menilai langkah tersebut tetap harus diambil demi keberlanjutan dan keselamatan kota Jakarta dalam jangka panjang.

“Normalisasi memang kebijakan yang tidak populer, tetapi ini harus dilakukan demi keberlanjutan kota,” ujarnya.

Selain normalisasi sungai sebagai solusi jangka menengah, Pramono menyampaikan Pemprov DKI juga menjalankan langkah jangka pendek, antara lain pengerukan saluran air dan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menekan intensitas hujan ekstrem di wilayah daratan Jakarta.

“Cuaca ekstrem ini alam yang memberikan solusi mengatasi banjir tidak bisa dilakukan dalam satu malam. Ada langkah jangka pendek seperti pengerukan dan modifikasi cuaca, serta jangka menengah melalui normalisasi,” kata Pramono.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, hingga Jumat 23 Januari 2026 pukul 12.00 WIB, banjir masih merendam 143 RT dan 16 ruas jalan utama di sejumlah wilayah Jakarta.

Kondisi tersebut memaksa ratusan warga di Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur mengungsi ke posko-posko darurat yang telah disiapkan oleh pemerintah daerah.

Pramono juga menjelaskan, genangan banjir yang berlangsung lama di sejumlah ruas jalan, termasuk kawasan Gunung Sahari, disebabkan oleh kombinasi hujan lebat dan banjir rob.

“Banjir yang lama surut di beberapa jalan itu karena juga ada masalah rob. Air tidak bisa turun dan tidak bisa dipompa meskipun sudah kita kerahkan pompa stasioner maupun pompa mobile, kurang lebih 1.200 pompa,” ujarnya.

Pemprov DKI Jakarta, lanjut Pramono, terus memaksimalkan seluruh sumber daya yang ada untuk mempercepat penanganan banjir, sembari memastikan langkah-langkah struktural berjalan agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang.

Related posts

Prabowo Targetkan Swasembada Energi dalam 5 Tahun: Kita Tidak Boleh Impor Lagi!

Aminah

Selama Pandemi, Pelukis Jombang Justru Lebih Produktif

Phandu

Pelantikan JMSI Aceh Dihadiri Ketua KPK

natmed

You cannot copy content of this page