Ekonomi

Pendapatan Parkir Digital Samarinda Masih Jomplang, Pasar Pagi Tertinggi

Teks: Parkir Pasar Pagi Mencatat Setoran Hampir Rp62 juta Sepanjang Maret 2026. (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Sistem parkir digital yang dikelola Pemerintah Kota Samarinda sepanjang Maret 2026 kembali menunjukkan ketimpangan pendapatan yang mencolok.

Dari empat kantong parkir yang berada di bawah pengelolaan Dinas Perhubungan (Dishub), Gedung Parkir Pasar Pagi menjadi penyumbang terbesar dengan setoran mencapai Rp61.901.499. Angka itu melesat jauh di atas tiga lokasi lain yang semuanya masih berada di bawah Rp10 juta.

Kepala Dishub Kota Samarinda Hotmarulitua Manalu menyebut dominasi Pasar Pagi sudah terlihat sejak sistem digital diberlakukan.

Karakter kawasan perdagangan itu memang membuat intensitas kendaraan sangat tinggi, terutama pada jam-jam tertentu.

“Pasar Pagi sejak lama menjadi pusat aktivitas warga. Mobilitasnya padat, wajar kalau pendapatannya jauh di atas titik lain,” ucapnya, Jumat 3 April 2026.

Kesenjangan yang terlalu jomplang ini menunjukkan perlunya pembenahan dan penguatan sistem di beberapa titik. Ia menegaskan Dishub tidak hanya mengejar angka, tetapi memastikan pengelolaan parkir digital benar-benar berfungsi sebagai instrumen tata kelola kota.

“Kesenjangan yang terlalu besar ini bukan sekadar soal ramai atau tidaknya lokasi. Kita perlu mengevaluasi pola pengawasan, perangkat, serta perilaku pengguna di tiga titik lain,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa optimalisasi pendapatan daerah tidak boleh bergantung pada satu titik semata.

“Kalau semua bertumpu pada Pasar Pagi, itu tidak sehat. Lokasi lain harus kita naikkan performanya,” tegasnya.

Dishub mengelola empat titik parkir digital, Museum Samarinda, Taman Bebaya, Plaza 21 dan Gedung Parkir Pasar Pagi.

Data rekap Maret menunjukkan ketimpangan yang cukup drastis. Plaza 21 mencatat Rp6.654.000, Museum Samarinda Rp3.762.260, sedangkan Taman Bebaya hanya Rp1.428.980.

Kepala Bidang Lalu Lintas Jalan Boy Leonardo Sianipar mengatakan angka tersebut menggambarkan realitas lapangan.

“Memang Pasar Pagi jauh di atas lainnya. Ini karena intensitas kendaraan di lokasi itu sangat tinggi setiap hari,” tuturnya.

Menurut Boy, pendapatan di tiga titik lain dipengaruhi oleh faktor lingkungan, daya tarik lokasi, dan pola kunjungan masyarakat.

“Museum dan Taman Bebaya karakternya berbeda. Plaza 21 juga tidak sepadat dulu. Semua itu memengaruhi,” ujarnya.

Dishub terus memantau dan mengevaluasi dinamika harian di setiap titik untuk memastikan sistem digital berjalan transparan.

“Kita rekap harian. Data itu jadi dasar untuk melihat apa yang harus diperbaiki,” tambahnya.

Related posts

Antrean Solar Dialihkan ke Dishub, Kendaraan Penunggak Pajak dan ODOL Bakal Diblokir

Sukri

Ikuti Gubernur Sherly, Kaltim akan Tanam Kelapa dan Kakao

Sahal

Tekan Beban Belanja Ramadan, Polresta Samarinda Salurkan 2 Ton Beras SPHP ke Masyarakat

Aminah