Samarinda

Pemangkasan Waktu Haji Dinilai Positif, Wali Kota Samarinda Minta Kesiapan Teknis Dimaksimalkan

Teks: Wali Kota Samarinda Andi Harun Saat Memberikan Keterangan Pers, Usai Melepas Jamaah Haji di GOR Segiri, Minggu,5/4/26. (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Kebijakan pemerintah yang memangkas durasi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 menjadi 38 dinilai meningkatkan efisiensi dan mengurangi beban fisik jemaah.

Wali Kota Samarinda Andi Harun menilai kebijakan tersebut pada prinsipnya merupakan langkah positif. Selama ini durasi panjang ibadah haji lebih banyak dihabiskan untuk masa tunggu, bukan pada inti pelaksanaan ibadah itu sendiri.

“Ya itu sebenarnya lebih bagus, karena masa haji itu kalau dihitung tidak lebih dari satu minggu yang lama itu menunggu masa datangnya wukuf, kemudian menunggu pemulangan,” ujarnya, Minggu 5 April 2026.

Pemangkasan masa tunggu akan berdampak pada meningkatnya efisiensi waktu sekaligus menjaga kondisi fisik jemaah, terutama di tengah cuaca ekstrem di Arab Saudi saat musim haji.

“Kalau dipangkas masa tunggunya, itu bisa saja sekitar 30 hari atau bahkan 25 hari. Saya sendiri pernah berhaji hanya 16 hari. Hari ini datang, besok wukuf, sudah sempat umrah dan haji,” jelasnya.

Meski demikian, Andi Harun mengingatkan bahwa efisiensi waktu tidak boleh mengorbankan kualitas pelayanan. Kesiapan teknis yang matang, mulai dari manajemen transportasi, akomodasi, hingga layanan kesehatan jamaah.

“Kalau hanya memotong waktu tanpa kesiapan teknis yang maksimal, itu justru bisa menimbulkan persoalan baru di lapangan. Jadi harus benar-benar dipastikan semua sistemnya siap,” tegasnya.

Tantangan cuaca ekstrem yang menjadi salah satu faktor utama risiko kesehatan jemaah. Berdasarkan pengalamannya, suhu di Tanah Suci saat musim haji bisa mencapai titik yang sangat tinggi, terutama saat puncak ibadah di Arafah.

“Di siang hari itu paling rendah sekitar 34 derajat. Saat wukuf bisa sampai 50 sampai 52 derajat. Jadi harus hati-hati, jangan sampai dehidrasi,” katanya.

Untuk itu, ia mengimbau calon jemaah agar mempersiapkan diri secara fisik dan mental sejak dini. Ia juga berbagi tips sederhana yang pernah ia lakukan saat menjalankan ibadah haji.

“Minum harus banyak. Saya biasanya bawa handuk kecil, dibasahi, lalu diletakkan di kepala. Karena di Arafah itu langsung terkena sinar matahari, meskipun di dalam tenda,” ungkapnya.

Selain faktor fisik, ia menilai kekuatan spiritual juga berperan penting dalam membantu jamaah menghadapi kondisi ekstrem selama ibadah.

“Insyaallah, dengan zikir bersama, suasana terasa lebih ringan. Panasnya seolah berkurang,” tambahnya.

Lebih jauh, keberhasilan kebijakan pemangkasan durasi haji tidak hanya diukur dari efisiensi waktu, tetapi juga dari kualitas layanan yang dirasakan jemaah secara menyeluruh.

“Ya kita syukuri kalau masa tunggu bisa dipangkas. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana jemaah tetap nyaman, aman, dan bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk,” tukasnya.

Related posts

Sejumlah Ketua DPD Pindah Partai, Berkarya Kukuhkan 10 Ketua Baru di Kaltim

natmed

Tepis Isu Liar di Medsos, Andi Harun Tegaskan Aturan Operasional THM dan Kafe Adalah Tradisi Tahunan

Sukri

Usai Lantik Sekda, Andi Harun Ingatkan Integritas Birokrasi

Sukri