Samarinda, Natmed.id – Melalui kolaborasi strategis antarorganisasi perangkat daerah (OPD), ribuan paket takjil dibagikan kepada masyarakat yang melintas di kawasan jalan protokol Kota Samarinda. Meski berjalan meriah, kegiatan ini menjadi evaluasi penting terkait manajemen kerumunan di lapangan.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kaltim Nina Dewi menyatakan bahwa aksi sosial ini merupakan bagian dari instruksi pimpinan daerah untuk memastikan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat selama bulan puasa.
Pada kesempatan kali ini, BPSDM tidak bergerak sendiri, melainkan bersinergi dengan empat instansi lainnya.
“Hari ini pembagian takjil dilakukan oleh gabungan lima perangkat daerah, yaitu BPSDM, BKD, Brida, BPBD, dan Satpol PP,” jelas Nina Dewi saat ditemui di lokasi, Jumat, 27 Februari 2026.
Menurutnya, setiap harinya pemerintah telah mengalokasikan sekitar 1.000 paket takjil yang disiapkan secara swadaya oleh masing-masing instansi untuk dibagikan kepada pengguna jalan, pejalan kaki, hingga ojek online.
Program ini direncanakan akan terus bergulir hingga tanggal 12 Maret 2026. Nina berharap kegiatan rutin tahunan ini tidak hanya sekadar formalitas, tetapi benar-benar memberikan manfaat nyata bagi warga yang masih berada di perjalanan saat waktu berbuka tiba.
Di sisi lain, antusiasme warga yang luar biasa besar menciptakan tantangan tersendiri dalam menjaga ketertiban. Adi, salah satu warga yang ikut mengantre, memberikan apresiasi sekaligus kritik membangun terhadap teknis pelaksanaan di lapangan.
Sebagai seorang perantau, Adi merasa program ini sangat meringankan beban pengeluaran harian.
“Langkah Pemprov Kaltim ini sangat bagus, apalagi bagi anak rantau seperti kami. Ini sangat membantu untuk menghemat,” tuturnya.
Namun, Adi juga menyoroti adanya perilaku tidak tertib dari sebagian oknum masyarakat yang membuat pembagian menjadi tidak merata.
Ia melaporkan adanya warga yang mencoba mengambil jatah lebih dari yang seharusnya, bahkan muncul isu mengenai penggunaan kupon yang tidak semestinya.
“Tadi sempat ada kendala karena ada yang mengambil sampai tiga bungkus. Harusnya satu orang cukup satu, supaya yang di belakang juga kebagian,” keluh Adi.
Ia juga menambahkan dengan nada bercanda bahwa mengambil jatah berlebih tidaklah baik.
“Kalau makan tiga bungkus nanti perutnya bisa meledak, jadi tolonglah kesadarannya agar berbagi dengan yang lain,” tegasnya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, keterlambatan distribusi dan adanya warga yang tidak mendapatkan bagian menjadi catatan penting bagi panitia.
Adi berharap ke depannya pihak keamanan atau Satpol PP yang bertugas dapat lebih tegas dalam mengatur alur antrean agar kejadian rebutan atau pengambilan jatah ganda tidak terulang kembali.
Meskipun terdapat beberapa catatan teknis, aksi solidaritas ini tetap menjadi oase bagi warga Samarinda, membuktikan bahwa sinergi antarinstansi pemerintah dapat menciptakan dampak sosial yang positif jika dikelola dengan manajemen lapangan yang lebih ketat.
