National Media Nusantara
Ekonomi

Omzet Pedagang Hiasan Natal di Samarinda Naik hingga 50 Persen

Teks: Beragam hiasan Natal terpajang di Toko Simpang Damai Baru Samarinda

Samarinda, Natmed.id – Omzet pedagang hiasan Natal di Kota Samarinda mengalami kenaikan hingga 50 persen menjelang perayaan Natal 2025, seiring meningkatnya aktivitas belanja masyarakat untuk kebutuhan dekorasi rumah, gereja dan ruang publik.

Kenaikan penjualan tersebut dirasakan salah satunya oleh Toko Simpang Damai Baru di Samarinda. Pemilik toko Lili (54) mengatakan permintaan pernak-pernik Natal mulai meningkat sejak awal Desember, meski tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau menjelang Natal pasti meningkat. Omzet naik kira-kira sekitar 50 persen dibanding hari biasa. Tapi memang tidak seramai dulu, karena sekarang saingannya sudah banyak,” ujar Lili, Rabu 17 Desember 2025.

Lili menjelaskan, toko yang dikelolanya memiliki spesialisasi penjualan aksesori dan bahan dekorasi musiman, seperti Natal, Imlek, Lebaran hingga perayaan 17 Agustus. Untuk Natal tahun ini, sejumlah produk masih menjadi favorit pembeli.

“Yang paling banyak dicari itu slinger, bola Natal, lampu hias, pita dekorasi, dan gantungan pohon Natal,” katanya.

Menurut Lili, tren dekorasi Natal juga terus berubah setiap tahun. Pada Natal 2025, pita dekorasi ukuran besar menjadi salah satu produk yang paling diminati.

“Tahun ini banyak yang cari pita ukuran 15 sentimeter, biasanya warna emas dan merah. Trennya memang beda-beda tiap tahun,” ujarnya.

Toko Simpang Damai Baru sendiri merupakan usaha keluarga yang telah berdiri sejak akhir 1960-an dan kini dikelola oleh generasi kedua. Penjualan pernak-pernik Natal telah dilakukan selama puluhan tahun.

“Awalnya ibu saya yang merintis. Untuk jual hiasan Natal sudah lama sekali, mungkin lebih dari 20 tahunan,” kata Lili.

Dari sisi harga, Lili memastikan tidak terjadi kenaikan signifikan. Harga pernak-pernik Natal relatif stabil karena harga kulakan juga tidak mengalami lonjakan. “Standar saja. Tidak ada kenaikan harga yang berarti,” jelasnya.

Harga produk bervariasi, mulai dari slinger murah seharga Rp8.000 hingga produk dekorasi premium di kisaran Rp20 ribu sampai Rp25 ribu. Pohon Natal kecil untuk meja dijual mulai Rp300 ribu, sementara ukuran lantai 5–6 kaki dibanderol mulai Rp500 ribu. Untuk pohon besar ukuran 7–9 kaki yang biasa digunakan di gereja atau ruang publik, harganya bisa mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2 juta lebih, tergantung tipe.

Menariknya, pembeli tidak hanya berasal dari Samarinda. Lili mengungkapkan banyak pelanggan datang dari daerah pelosok Kalimantan Timur.

“Ada yang dari daerah hulu, kemarin dari Desa Tanjung Jan Kutai Barat. Mereka beli pohon Natal besar untuk hias dermaga,” ungkapnya.

Menurut Lili, keterbatasan pengiriman daring menjadi alasan masyarakat dari daerah memilih berbelanja langsung ke Samarinda. “Kalau pesan dari Jawa lama, bisa dua minggu. Barang berat juga susah dikirim online,” katanya.

Meski demikian, penjualan daring tetap dimanfaatkan sebagai sarana promosi. “Sekadar nyambi dan promosi. Anak muda sekarang lebih banyak tahu dari media sosial,” ujarnya.

Lili menambahkan, pola belanja Natal biasanya dimulai sejak akhir November untuk keperluan gereja atau dijual kembali, sementara belanja masyarakat umum memuncak di awal hingga pertengahan Desember.

“Menjelang tanggal 25 biasanya malah mulai sepi, karena orang sudah siap semua,” katanya.

Di luar musim perayaan, toko tersebut kembali fokus menjual alat tulis dan perlengkapan jahit, sementara pernak-pernik Natal hanya dipajang mulai pertengahan November hingga menjelang hari H.

Related posts

Kecamatan Puspo Jadi Lumbung Susu Kedua Terbesar di Jatim

Sahal

Migas Center Pertama di Kalsul Diresmikan di Balikpapan

Aminah

PHM Mulai Proyek Peciko 8A Guna Tingkatkan Cadangan, Ini Kata Jhon Inis

natmed

You cannot copy content of this page