Lebak, Natmed.id – Lebak berada di ujung barat Pulau Jawa, jauh dari pusat kekuasaan kolonial. Namun dari wilayah yang kerap dipandang pinggiran inilah lahir sebuah buku yang mengguncang nurani Eropa dan mengubah cara dunia memandang kolonialisme, buku itu berjudul Max Havelaar.

Jejak kelahirannya bermula di Rangkasbitung. Di kota kecil inilah Eduard Douwes Dekker bertugas sebagai Asisten Residen Lebak pada 1856. Masa tugasnya singkat, tetapi pengalaman yang ia alami cukup untuk mengubah arah hidupnya dan kelak memengaruhi arah sejarah.
Jejak itu pula yang dibaca ulang oleh peserta Kemah Budaya Hari Pers Nasional (HPN) 2026 saat mengunjungi Museum Multatuli, Jumat 16 Januari 2026. Kunjungan ini bukan sekadar agenda wisata budaya, melainkan upaya menelusuri asal-usul gagasan, kata-kata, dan keberanian yang pernah lahir dari tanah Lebak.
Lebak dan Sistem yang Melukai
Ketika Douwes Dekker tiba di Lebak, sistem kolonial telah bekerja dengan rapi. Pajak tinggi, kerja paksa dan penyalahgunaan wewenang menjadi bagian dari keseharian rakyat. Laporan penindasan berputar di meja birokrasi, lalu berhenti tanpa penyelesaian.
Dekker memilih bersuara, ia melaporkan praktik korupsi dan pemerasan yang dilakukan elite lokal dengan perlindungan kekuasaan kolonial. Respons yang ia terima dingin, sistem lebih memilih ketertiban semu daripada keadilan.
Ia mengundurkan diri dari jabatannya dan meninggalkan Hindia Belanda. Namun Lebak tidak pernah benar-benar ia tinggalkan, dari pengalaman itulah lahir Max Havelaar pada 1860, sebuah novel yang ditulis dengan nama pena Multatuli “aku telah banyak menderita”.
“Aku akan didengar,” tulisnya. Kalimat itu kelak terbukti bukan sekadar tekad pribadi, tetapi suara yang menggema lintas zaman.

Museum Multatuli Ruang Ingatan
Museum Multatuli berdiri di bekas kantor Wedana Rangkasbitung yang dibangun pada 1923. Bangunan kolonial ini diresmikan sebagai museum pada 11 Februari 2018 oleh Bupati Lebak Hj Iti Octavia Jayabaya bersama Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid.
Museum ini menjadi museum Multatuli kedua di dunia setelah Amsterdam. Dengan pendekatan audio visual dan tata pamer interaktif, museum menghadirkan sejarah sebagai pengalaman, bukan sekadar arsip.
Peserta Kemah Budaya HPN 2026 memasuki museum melalui ruang pembuka yang menampilkan mozaik wajah Multatuli dari potongan akrilik. Di ruang inilah pengunjung disambut kalimat yang menjadi roh seluruh pameran “Tugas manusia adalah menjadi manusia.” Kalimat itu bukan slogan, ia menjadi kunci pembacaan atas seluruh narasi museum.
Tujuh Ruang dan Satu Gagasan
Museum Multatuli memiliki tujuh ruang pamer yang masing-masing merepresentasikan fase sejarah berbeda. Ruang awal memperlihatkan kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara, dilanjutkan dengan ruang kolonialisme dan tanam paksa yang menampilkan replika kapal, peta, dan visual penderitaan rakyat.
Ruang keempat menjadi pusat perhatian, perjalanan hidup Multatuli dan lahirnya Max Havelaar. Di ruangan ini tersimpan edisi asli buku Max Havelaar yang didatangkan dari Belanda, surat-surat, serta dokumentasi penerbitannya.
Video pendek menampilkan pandangan Pramoedya Ananta Toer tentang arti penting Max Havelaar sebagai karya yang membuka mata dunia terhadap praktik kolonialisme.
Ruang berikutnya menampilkan perlawanan rakyat Banten, sejarah Lebak, dan diakhiri dengan Ruang Rangkasbitung yang memperlihatkan perkembangan kota dari masa kolonial hingga hari ini.
Buku yang Dipelajari Para Pemikir
Max Havelaar tidak berhenti sebagai novel Eropa. Buku ini dibaca dan dipelajari oleh kaum terpelajar Hindia Belanda. Soekarno membaca karya ini sebagai pengingat bahwa kemerdekaan berangkat dari martabat manusia.
Tan Malaka melihat Max Havelaar sebagai pintu awal memahami bahwa ketidakadilan kolonial bukan peristiwa terpisah, melainkan bagian dari sistem. Kesadaran ini membentuk cara berpikir kritis generasi pergerakan.
Rangkasbitung pun menjadi ruang belajar. Dari kota kecil ini, gagasan tentang kemanusiaan dan keberanian menyebar melalui buku, diskusi, dan perlawanan intelektual.
Bagi peserta Kemah Budaya HPN 2026, kunjungan ke Museum Multatuli menjadi ruang refleksi tentang peran pers. Multatuli memberi teladan bahwa menulis adalah sikap. Bahwa kata-kata dapat menjadi alat perlawanan ketika kekuasaan memilih diam.
Penyair WS Rendra pernah menulis, “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.” Kalimat itu menemukan konteksnya di Lebak tempat kata-kata pernah mengguncang kekuasaan.
Menunggu untuk Terus Didengar
Museum Multatuli tidak hanya menyimpan masa lalu, ia menunggu untuk terus dibaca, menunggu suara-suara baru yang berani berpihak pada kemanusiaan.
Di Rangkasbitung, sebuah buku pernah menantang sistem. Dari buku itu, kesadaran tumbuh, dipelajari, lalu diperjuangkan oleh generasi berikutnya.
Melalui Kemah Budaya HPN 2026, suara itu kembali dipanggil agar tidak berhenti sebagai sejarah, dan tidak pernah benar-benar sunyi.
