Kota Pasuruan, Natmed.id – Di antara deru kendaraan di Jalan Pahlawan, berdiri sebuah monumen tua yang kerap luput dari perhatian. Bangunan yang didirikan pada 1912 itu diyakini menjadi penanda awal pengukuran jarak Kota Pasuruan pada masa kolonial.
Letaknya berada di depan Kantor ATR/BPN Kabupaten Pasuruan dan berdampingan dengan kompleks Pemerintah Kota. Pada era Hindia Belanda, kawasan tersebut merupakan halaman rumah dinas Residen Pasoeroean sekaligus pusat orientasi tata kota.
Dalam peta bertajuk “Java Res. Pasoeroean” terbitan 1923, titik itu tercatat sebagai “P.0” atau *Afstandspaal*, yakni penunjuk jarak utama. Sistem tersebut terhubung dengan jalur De Grote Postweg yang dibangun pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels sebagai penghubung antarkota di Pulau Jawa.
Arsip lama menunjukkan setiap paal berjarak sekitar 1,5 kilometer dan seluruhnya mengacu pada P.0 sebagai poros penghitungan. Dari sanalah arah dan jarak ke berbagai wilayah diukur.
Kini, tanda fisik paal kolonial sudah tidak tampak. Di lokasi yang diyakini sebagai titik awal justru berdiri replika menara kecil yang kerap menjadi latar swafoto warga. Meski tampilannya berubah, jejak sejarahnya masih terasa.
Pegiat sejarah, Much Fatkhul Arifin, menilai monumen tersebut memiliki nilai penting bagi identitas kota. Ia menyebut kawasan itu layak ditegaskan sebagai Kilometer Nol Pasuruan melalui penataan yang informatif.
“Secara historis, ini pusat orientasi jarak. Kalau ditata dengan baik dan diberi penjelasan, masyarakat akan lebih memahami maknanya,” ujarnya, Senin 2 Maret 2026.
Hingga kini belum ada penetapan resmi dari pemerintah daerah. Namun keberadaan monumen 1912 dan arsip peta kolonial menjadi pengingat bahwa Jalan Pahlawan pernah menjadi titik awal yang menandai denyut perkembangan Kota Pasuruan.
