Samarinda

Melawan Lupa di Toko Karpet, Konsistensi Ramadhan S Pernyata Menjaga Narasi Samarinda

Teks: Founder Samarinda Design Hub, Ramadhan S Pernyata Saat Diwawancarai Wartawan,12/4/26. (Natmed.id/Sukri)

Samarinda, Natmed.id – Di sebuah bangunan yang dulunya dikenal sebagai toko karpet di kawasan Sempaja, sebuah perlawanan terhadap amnesia visual kota tengah berlangsung.

Ramadhan S. Pernyata, seorang desainer sekaligus akademisi, kembali menggelar pameran desain dan ilustrasi bertajuk “Memoara”. Ini merupakan edisi ketujuh dari rangkaian pameran yang kini dikenal sebagai pameran desain terkonsisten di Kalimantan Timur.

Bagi Ramadhan, pameran ini bukan sekadar ajang pamer estetika, melainkan sebuah pembuktian atas klaim besar Samarinda.

“Hati saya berontak karena kota ini berani mencap dirinya sebagai kota pusat peradaban. Jadi atas dasar itu, kalau berani mengklaim, harus berani bukti. Akhirnya sejak 2018, saya cicil bikin peralatan, mengajak teman-teman, kita bikin pameran yang narasinya tentang Samarinda,” tegas Ramadhan saat ditemui di galerinya pada Minggu, 12 April 2026.

Keputusan untuk menggunakan ruang pribadi sebagai galeri seni bukan tanpa alasan. Ramadhan mengaku resah dengan birokrasi dan minimnya wadah apresiasi seni rupa di ibu kota Kalimantan Timur ini.

Ia memilih menyulap toko karpetnya yang mulai sepi pengunjung menjadi Samarinda Design Hub.

“Kenapa saya bikin ini? Karena enggak ada yang bikin. Selama Anda jadi awak media, pernah lihat pameran serupa? Bercerita tentang Samarinda lewat gambar? Belum,” ujarnya retoris.

Ia menambahkan bahwa sejak pulang dari studinya di Desain Komunikasi Visual (DKV) ITB Bandung 20 tahun lalu, ia merindukan atmosfer diskusi seni yang hidup. Namun, ia justru mendapati kenyataan bahwa seni rupa sering kali tersisih oleh seni pertunjukan.

Pada edisi ketujuh ini, tema Memoara diangkat sebagai wadah kenangan kolektif. Sebanyak 20 partisipan menyumbangkan sudut pandang mereka mengenai Samarinda mulai dari kuliner ikonik hingga bangunan yang kini rata dengan tanah.

“Tema sekarang tentang kenangan-kenangan kolektif warga Samarinda. Contohnya Lapangan Pemuda, sekarang sudah jadi Taman Samarinda. Bagi saya yang berusia 40 tahun, itulah tempat kami main bola dulu. Kami mengenangnya lewat gambar,” jelasnya.

Salah satu bagian yang paling personal adalah Graphic Memoir, sebuah seri gambar yang menceritakan masa kecil Ramadhan di pinggiran Sungai Karang Mumus.

Melalui guratan ilustrasi, ia menceritakan relasi emosional antara kenakalan masa kecil dan kasih sayang ibunya.

“Memoir itu kan kenangan. Dinding itu khusus menceritakan saya dan mama. Paling kiri atas itu saya waktu kecil, di bawahnya ada alat pukul mama kalau saya nakal. Alasannya? Kebanyakan karena main di sungai sampai maghrib padahal masih pakai baju sekolah,” kenangnya sembari tertawa.

Pameran ini sempat terhenti pada tahun 2025 karena kondisi kesehatan Ramadhan yang menurun drastis. Namun, dedikasinya terhadap dokumentasi kota tak padam. Ia memastikan setiap pameran memiliki katalog fisik sebagai bukti sejarah yang tak terbantahkan.

“Saya bukan menjual rasa sakit, tapi jantung saya fungsinya tinggal 17 persen dan ginjal saya sudah kronis. Tapi sebelum saya habis, saya pengen bikin ginian. Kan seru,” ungkapnya.

Setiap katalog dari pameran ini kini tak hanya tersimpan di Sempaja, tetapi telah menembus institusi internasional seperti Library of Congress di Washington dan Leiden University di Belanda.

Hal ini menjadi bukti bahwa narasi lokal tentang Nasi Kuning atau Sungai Karang Mumus memiliki nilai penting dalam arsip kebudayaan global.

“Mana buktinya bikin pameran? Tadah! Per pameran itu ending-nya pasti ada bukunya. Orangnya masih di Sempaja, tapi gambarnya sudah sampai ke Leiden,” pungkasnya.

Related posts

Genangan dan Stunting Jadi Perhatian, Samarinda Ilir Ajukan 20 Program Prioritas

Aminah

BSM Segera Cair Minggu Ini, Rp 750 Ribu Per Kepala Keluarga

natmed

Bukan Sekadar Ibadah, Ini Makna Paskah yang Sering Terlewat

Aminah