Ekonomi

Masuki Pekan Terakhir, Pengunjung Wisata Belanja Ramadan Samarinda Turun hingga Setengahnya

Teks: Aktivitas Pedagang Di Kawasan Wisata Belanja Ramadan Samarinda, Kamis,12/3/26. (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Jumlah pengunjung kawasan Wisata Ramadan di halaman Gor Segiri Samarinda, mulai menurun memasuki pekan terakhir bulan puasa. Penurunan ini disebut sebagai pola yang hampir selalu terjadi setiap tahun menjelang Hari Raya Idulfitri.

Teks: Kepala Disporapar Samarinda Muslimin Usai Belanja di Wisata Belanja Ramadan, Kamis,12/3/26. (Natmed.id/Aminah).

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Samarinda Muslimin menyebut pada awal Ramadan kawasan tersebut bisa dipadati ribuan pengunjung setiap hari. Namun memasuki akhir Ramadan, jumlahnya berkurang cukup signifikan.

“Memasuki minggu terakhir Ramadan memang biasanya pengunjung agak berkurang. Kalau di awal bisa 2.000 sampai 3.000 orang, sekarang biasanya tinggal sekitar 1.000 sampai 1.500 orang,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Kamis 12 Maret 2026.

Perubahan pola aktivitas masyarakat menjadi salah satu penyebab turunnya jumlah pengunjung. Warga yang sebelumnya ramai berburu takjil di kawasan pasar Ramadan kini mulai beralih ke pusat perbelanjaan untuk mempersiapkan kebutuhan Lebaran.

“Sekarang kelihatan masyarakat yang biasanya datang ke pasar Ramadan mulai berpindah ke mal-mal untuk belanja pakaian, sepatu, dan kebutuhan keluarga,” kata Muslimin.

Meski demikian, pemerintah tetap mempertahankan kegiatan Wisata Belanja Ramadan sebagai ruang ekonomi bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil yang memanfaatkan momentum Ramadan untuk berjualan.

“Tujuan kegiatan ini memang memberikan ruang dan tempat bagi masyarakat kita untuk berusaha. Kita berharap warga yang berjualan di sini tetap mendapatkan keuntungan dari usaha mereka,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, Muslimin juga mengakui sempat ada keluhan pedagang terkait genangan air saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut beberapa waktu lalu. Namun ia memastikan kondisi itu tidak berlangsung lama.

“Kalau hujan deras memang sempat ada genangan karena air merembes pelan. Tapi biasanya tidak lama, paling satu jam sudah kering lagi,” katanya.

Ia menjelaskan kondisi lokasi sebenarnya sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Area yang dulu berpasir kini telah diaspal sehingga lebih nyaman bagi pengunjung.

“Tahun ini sudah kita aspal. Dulu kan berpasir, jadi banyak debu. Sekarang pejalan kaki lebih nyaman dan kebersihan juga lebih mudah dijaga,” jelasnya.

Muslimin juga mengungkapkan bahwa penyelenggaraan Wisata Belanja Ramadan tahun ini dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga, tanpa pembiayaan langsung dari pemerintah.

“Kegiatan pasar Ramadan ini kita jalankan bekerja sama dengan pihak ketiga. Tujuannya agar masyarakat tetap bisa berusaha dengan biaya yang lebih ringan,” ujarnya.

Selain menyediakan ruang usaha, pengelola juga mengatur parkir pengunjung yang sempat menimbulkan antrean panjang di awal Ramadan. Sistem pembayaran parkir yang awalnya menggunakan metode non-tunai akhirnya disesuaikan.

“Awalnya parkir menggunakan cashless, tapi antreannya panjang sampai menyebabkan kemacetan. Akhirnya kita beri toleransi menggunakan karcis manual selama Ramadan,” ujar Muslimin.

Meski pengunjung menurun di akhir Ramadan, ia menilai sebagian besar pedagang tetap mampu memperoleh keuntungan, terutama pada dua pekan pertama pelaksanaan pasar.

“Biasanya di minggu pertama mereka sudah bisa menutup biaya operasional. Minggu kedua dan ketiga itu baru mulai menikmati keuntungan,” katanya.

Muslimin berharap Wisata Ramadan tetap menjadi ruang ekonomi musiman yang dapat dimanfaatkan masyarakat, sekaligus menjadi salah satu daya tarik kuliner bagi warga Samarinda setiap bulan puasa.

Related posts

Polsek Samarinda Kota Dukung Aksi Tanam 1 Hektare Jagung di Sambutan

Aminah

Citibank Mampu Meraub Keuntungan

Muhammad

PEP Sangasanga Field Hidupkan Kembali Sumur Mati dengan Inovasi Tanpa Rig

ericka