Kalimantan Timur

Mahasiswa Kecewa, Diskusi Publik Hanya Jadi Ruang Presentasi

Teks: iskusi Publik Bicara Data Fakta, Korelasi Data dan Fakta Pembangunan Kaltim di bawah Pemerintahan Rudy- Seno, Jumat 6/3/26 (Natmed.id/Sukri)

Samarinda, Natmed.id – Kelompok mahasiswa yang hadir dalam diskusi publik bertajuk “Bicara Data, Bicara Fakta: Korelasi Data dan Fakta Pembangunan Kaltim di bawah Pemerintahan Rudy Mas’ud dan Seno Aji” menyampaikan kritik pedas terhadap penyelenggara dan pemateri.

Forum yang digelar di Ruang Ruhui Rahayu, Kantor Gubernur Kaltim tersebut, dinilai gagal menjadi wadah dialektika yang sehat.

Ferry, perwakilan mahasiswa dari Politeknik Negeri Samarinda (Polnes), mengungkapkan rasa sesalnya sesaat setelah agenda berakhir. Ia menilai esensi dari sebuah diskusi publik telah hilang dan berganti menjadi penyampaian materi searah yang kaku.

Menurut Ferry, kehadiran mahasiswa dalam forum tersebut didasari oleh harapan untuk menguji data pembangunan Kalimantan Timur melalui debat dan tanya jawab yang substansial. Namun, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik.

“Kami sebagai mahasiswa yang diundang sangat menyayangkan diskusi ini. Menurut saya, ini bukan seperti ruang diskusi sebenarnya, tetapi hanya seperti ruang presentasi. Seolah-olah kami hanya diajarkan oleh pemateri tanpa diberi ruang untuk menguji apa yang disampaikan,” tegas Ferry dengan nada kecewa.

Berdasarkan pernyataan Ferry, terdapat beberapa alasan kuat mengapa forum tersebut dianggap tidak efektif bagi kalangan akademisi.

Mahasiswa mengkritik waktu yang terlalu singkat. Durasi diskusi yang disediakan panitia dianggap sangat terbatas, sehingga tidak memberikan kesempatan bagi banyak peserta untuk menyampaikan pandangannya secara utuh.

Jawaban yang melenceng. Ferry menyoroti kualitas jawaban dari para pemateri. Ia menyebut banyak pertanyaan kritis yang dilemparkan mahasiswa justru dijawab dengan narasi yang tidak relevan atau melenceng dari substansi masalah pembangunan yang sedang dibahas.

Pemateri terburu-buru meninggalkan acara. Mahasiswa merasa tidak dihargai ketika para pemateri meninggalkan lokasi acara dalam waktu yang relatif cepat, padahal masih banyak poin krusial yang ingin dipertanyakan terkait kepemimpinan Rudy Mas’ud dan Seno Aji.

Ferry menegaskan bahwa mahasiswa hadir bukan untuk sekadar menggugurkan kewajiban undangan, melainkan untuk beradu argumen demi mendapatkan solusi nyata atas problematika daerah yang diangkat oleh pihak penyelenggara.

“Padahal kami berharap banyak dialog yang terjadi antara kami mahasiswa dengan pemateri. Kami ingin ada adu argumen dan tukar pendapat untuk mendapatkan solusi,” tambahnya.

Melalui kritik ini, Ferry berharap agar forum-forum mendatang yang melibatkan mahasiswa tidak lagi bersifat seremonial atau sekadar formalitas. Ia menuntut adanya transparansi data dan kesediaan pemateri untuk dikritik secara terbuka dalam durasi waktu yang lebih proporsional.

Related posts

JMSI Kaltim dan Bali Perkuat Sinergi Wujudkan Standarisasi Media

Aminah

JMSI Kukar dan Balikpapan Berbagi Takjil untuk Pengguna Jalan

Arum

Airlangga Hartarto Tunjuk Dito Ariotedjo Jadi Tim Ahli Menko Perekonomian

Febiana