Samarinda, Natmed.id – Di tengah maraknya produk aksesori kayu dari luar daerah, brand lokal Legam memilih jalur berbeda dengan membidik pasar menengah melalui jam tangan berbahan kayu ulin dan kayu hitam asli Kalimantan. Strategi ini tidak hanya soal harga yang terjangkau, tetapi juga upaya menempatkan material khas Borneo sebagai nilai utama produk.

Co-founder Legam, Iendy Zelviean Adhari mengatakan Legam sejak awal diposisikan untuk menjangkau konsumen lokal yang menginginkan produk berkualitas, namun masih realistis dari sisi harga.
“Legam kami arahkan untuk middle class sampai low price. Bahannya tetap kayu asli Kalimantan, tapi harganya kami buat lebih terjangkau supaya masyarakat lokal bisa menikmati,” ujar Iendy saat ditemui di Samarinda.
Legam menggunakan dua jenis kayu utama, yakni kayu ulin dan kayu hitam Kalimantan. Kayu hitam yang dipakai memiliki nama latin Diospyros borneensis, satu rumpun dengan kayu eboni Sulawesi. Di tingkat lokal, kayu ini kerap disebut sebagai kayu arang.
Menurut Iendy, pemilihan kayu bukan sekadar estetika, tetapi juga ketahanan material terhadap iklim tropis Kalimantan yang panas dan lembap.
“Kayu ulin itu keras dan stabil. Jam dari kayu Jawa seperti maple atau sonokeling sering bermasalah kalau dibawa ke Kalimantan, muncul retak atau garis. Ulin lebih tahan,” jelasnya.
Seluruh bahan baku Legam berasal dari Kalimantan Timur, terutama dari wilayah Kutai Kartanegara. Kayu diperoleh melalui pengepul dan pengambilan terbatas dari hutan, dengan catatan telah mengantongi Sertifikat Legalitas Kayu (SPLK).
“SPLK ini penting, bukan cuma soal legalitas, tapi juga syarat kalau suatu saat produk mau masuk pasar ekspor,” kata Iendy.
Untuk pasar lokal, jam tangan Legam dibanderol mulai harga Rp400 ribu hingga Rp800 ribu, tergantung model dan material pendukung seperti tali jam. Harga tersebut dinilai kompetitif dibanding produk sejenis dari luar daerah, yang umumnya berada di rentang harga serupa namun menggunakan kayu nontropis.
Legam juga memberikan garansi mesin enam bulan dan garansi bodi satu tahun. Setiap pembelian disertai cairan perawatan khusus untuk menjaga kualitas kayu.
“Kami tidak jual barang putus. Pembeli itu mitra. Selama masa garansi, kalau ada masalah kami perbaiki tanpa biaya,” ujarnya.
Dari sisi produksi, Legam saat ini dikerjakan oleh enam orang pengrajin dalam satu tim. Proses pengerjaan disebut tidak bisa disamakan dengan produksi massal karena karakter kayu Kalimantan yang keras dan membutuhkan presisi tinggi.
“Ngolah kayu Kalimantan itu lama. Kalau di Jawa satu minggu bisa jadi tiga jam, di sini bisa satu minggu satu jam. Tapi justru itu nilai seninya,” kata Iendy.
Secara legalitas usaha, Legam mulai berjalan sejak 2024, namun riset dan pengembangan produk telah dilakukan sejak 2023, pascapandemi. Penjualan dilakukan secara daring melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook, serta secara luring di wilayah Loa Kulu, Kutai Kartanegara.
Dalam satu bulan, omzet Legam bervariasi tergantung aktivitas pasar dan ajang. Saat ramai kegiatan atau pesanan khusus, omzet bisa meningkat signifikan, sementara pada periode sepi tetap bertahan dari penjualan ritel satuan.
Iendy menegaskan, pemisahan Legam dari brand lain yang ia kembangkan dilakukan agar segmentasi pasar tidak saling berbenturan.
“Kalau satu brand dipakai untuk semua segmen, nanti malah saling bentrok. Legam fokus ke pasar menengah, supaya jelas arah dan targetnya,” ujarnya.
Meski menyasar pasar menengah, Legam menghadapi tantangan klasik UMKM berbasis kayu lokal, mulai dari keterbatasan bahan baku, lamanya proses produksi, hingga fluktuasi daya beli masyarakat. Namun Iendy menilai kekuatan utama Legam justru ada pada keaslian material dan kedekatan dengan pasar lokal.
“Ini produk Kalimantan, dibuat orang Kalimantan, untuk iklim Kalimantan. Itu yang kami tawarkan,” pungkasnya.
