Ekonomi

Kue Jadul Lebaran Pasuruan Bertahan di Tengah Tren Modern

Teks: Kue Jadul Lebaran Semprit Produksi Warga Rejoso, Kabupaten Pasuruan, Rabu,25/2/26 (Natmed.id/Sahal)

Pasuruan, Natmed.id – Aroma kue kering tradisional masih menguar dari sebuah rumah produksi di Dusun Kedung Bendo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, menjelang Idulfitri 2026. Di tengah gempuran sajian modern, penganan lama tetap menemukan penggemarnya.

Teks: Tuti Dwi Suprapti Pengusaha Rumahan Jajanan Jadul, Rabu,25/2/26 (Natmed.id/Sahal)

Setiap pagi, Tutik Dwi Suprapti (60) bersama empat karyawannya mulai menakar adonan. Tangan mereka cekatan membentuk satru, semprit, hingga keciput yang kelak dikirim ke berbagai daerah.

Perempuan yang telah 25 tahun menekuni usaha itu mengaku pesanan datang bahkan sebelum Ramadan dimulai. Ia memulai usaha rumahan tersebut dengan modal Rp300 ribu dan kini mampu memasarkan produknya ke Pulau Jawa, Bali, dan Sulawesi.

“Sejak sebelum puasa sudah banyak yang pesan. Pelanggan lama biasanya langsung menghubungi,” ujar Tutik, Rabu 25 Febuari 2026.

Tahun ini, ia memproduksi sekitar tujuh ton satru karena permintaan meningkat. Selain satru, ting ting kacang, sagon, semprit, ting ting wijen, dan opak gambir juga ikut diproduksi.

Harga jual per kilogram bervariasi, mulai Rp44 ribu hingga Rp53 ribu. Menurut dia, penentuan harga mempertimbangkan bahan baku dan biaya produksi yang bergerak selama Ramadan.

Di sudut ruangan, toples-toples bening berjejer menunggu dikemas. Proses pengemasan dilakukan setelah kue benar-benar dingin agar kualitas tetap terjaga saat dikirim ke Banyuwangi, Probolinggo, Situbondo, dan Surabaya.

“Yang paling banyak dicari tetap satru. Rasanya klasik, jadi orang-orang kangen,” katanya.

Salah satu pelanggan asal Surabaya, Rina (38), mengaku rutin membeli kue tersebut setiap tahun. Ia menyebut kue tradisional memberi nuansa berbeda saat berkumpul bersama keluarga.

“Anak-anak sekarang memang suka yang modern, tapi kalau Lebaran rasanya belum lengkap tanpa kue jadul,” ujar Rina.

Dari usaha rumahan itu, Tutik memperkirakan omzet kotor musim ini mencapai sekitar Rp90 juta. Bagi dia, angka tersebut bukan sekadar pencapaian usaha, melainkan bukti bahwa cita rasa lama masih mendapat tempat di hati masyarakat.

Related posts

Cegah Penularan Covid-19, Karyawan Lotte Grosir Gunakan APD

natmed

Harga Buah di Samarinda Cenderung Stabil di Minggu Pertama Ramadan

Sukri

Jelang Implek dan Ramadan, Harga Bawang Masih Normal

Sukri