Pasuruan, Natmed.id – Di lereng sejuk Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, bunga krisan tumbuh bukan sekadar tanaman hias. Setiap hari, kelopak-kelopak berwarna cerah mekar dari kebun warga, menjadi penanda denyut ekonomi sekaligus kebanggaan masyarakat setempat.
Krisan, yang dikenal dengan sebutan Queen of the East telah lama dibudidayakan di wilayah ini. Dusun Kadipaten, Desa Tutur, bahkan dikenal luas sebagai Kampung Bunga Krisan karena hamparan kebunnya yang mendominasi lanskap desa.
Salah satu petani yang menekuni budidaya krisan adalah Sudartono. Ia mengelola lahan lebih dari satu hektare yang ditanami sekitar 700 ribu batang krisan dengan beragam warna dan varietas.
Setiap pagi, kebun miliknya menjadi tempat panen rutin. “Kami selalu memanen setiap hari. Tiada hari tanpa bunga merekah,” ujar Sudartono saat ditemui di sela aktivitas panen, Jumat 23 Januari 2026.
Menurutnya, krisan dari Tutur terus diminati pasar. Permintaan datang tidak hanya dari wilayah sekitar Pasuruan, tetapi juga dari kota-kota besar hingga luar pulau.
“Pengiriman kami sampai Malang, Batu, Surabaya, Jakarta, bahkan Bali,” kata Sudartono.
Untuk memenuhi selera pasar yang beragam, ia menanam sekitar 30 varietas krisan. Keanekaragaman tersebut menjadi strategi agar pasokan tetap terserap dan tidak bergantung pada satu jenis bunga.
Krisan dijual dalam bentuk ikat dengan harga Rp16 ribu per ikat. Dalam sehari, penjualan bisa mencapai 500 hingga 1.000 ikat, bergantung pada permintaan dan musim.
Sudartono menjelaskan, menghasilkan krisan berkualitas memerlukan ketelitian. Media tanam, pemupukan, jarak tanam, hingga cara perawatan menjadi faktor penting agar bunga tumbuh seragam dan menarik.
Sebagai Ketua Kelompok Tani Sido Rejo IV, ia juga melibatkan sekitar 15 tenaga kerja dari warga sekitar. “Mereka membantu dari proses tanam sampai pemasaran,” ujarnya, seraya menyebut budidaya krisan turut menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Desa Tutur.
