Pasuruan

Kota Pasuruan Bangkitkan Kesadaran Sejarah Lewat Si Bang Jali 2025

Pasuruan, Natmed.id – Upaya memperluas ruang belajar publik kembali dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kota Pasuruan melalui gelaran Si Bang Jali (Sinau Bareng dan Jagongan Literasi) di Gedung Harmoni, Jumat 28 November 2025. Forum tersebut berlangsung hangat dengan panggung yang menampilkan visual bangunan heritage, menghadirkan pelajar se-Kota Pasuruan dan komunitas budaya.


Sejumlah pakar lintas kampus mengisi diskusi itu. Hadir Prof. Dr. Joko Sayono, Guru Besar Teknologi Pembelajaran Sejarah Universitas Negeri Malang; Prof Dr Wishnu, ahli literasi kolonial dan Tim Ahli Cagar Budaya Jatim Ismail Lutfi, pakar epigrafi Indonesia, Mohammad Refi Omar Ar Razy, dosen historiografi Universitas Negeri Surabaya, serta Muhammad I’mad Hamdy, peneliti kawasan elite Eropa Pasuruan.

Para narasumber menguraikan perkembangan Kota Pasuruan pada masa Gemeente Pasoreoan. Pemaparan mencakup peta permukiman kolonial, kawasan Eropeesche Wijk, perkampungan Arab dan Cina, lingkungan priyayi, hingga kampung pribumi. Arsip foto dan peta lama yang diproyeksikan di layar memberi gambaran visual yang jarang ditemui dalam pembelajaran formal.

Materi sejarah tersebut disusun untuk memperlihatkan perjalanan kota secara kronologis. Peserta diajak memahami bagaimana perkembangan permukiman memengaruhi identitas sosial dan struktur ruang Pasuruan saat ini. Pendekatan visual membuat forum terasa seperti membuka kembali album memori kota.

Kepala Dispendikbud Kota Pasuruan Lucky Danardono menyampaikan apresiasinya melalui pesan WhatsApp. Ia menegaskan bahwa Si Bang Jali dirancang menjadi jembatan literasi sejarah yang berkelanjutan. “Kami ingin sejarah kota tidak hanya tersimpan di arsip, tetapi hadir sebagai pengetahuan hidup bagi generasi muda,” ujarnya.

Lucky menambahkan bahwa literasi sejarah adalah bagian dari pembentukan karakter. Menurutnya, pemahaman yang benar mengenai masa lalu akan memperkuat identitas dan kepedulian pelajar terhadap kotanya. Ia berharap kegiatan ini terus berkembang dan mencakup lebih banyak ruang belajar.

Kabid Kebudayaan Dispendikbud Kota Pasuruan Agus Budi Darmawan menilai jagongan ini sebagai strategi memperkuat ekosistem kebudayaan lokal. Ia menyebut kawasan heritage sebagai laboratorium terbuka yang menyediakan banyak referensi sejarah. “Tugas kami memastikan narasi kota tersampaikan dengan cara relevan bagi siswa dan masyarakat,” kata Agus.

Respons positif juga datang dari para pelajar. Seorang siswa SMA mengaku forum tersebut memberi perspektif baru tentang kota tempat mereka tinggal. Ia menyampaikan bahwa sebelumnya hanya mengenal sejarah Pasuruan dari cerita keluarga, sementara diskusi ini memberikan gambaran menyeluruh yang sulit diperoleh di kelas.

Siswa SMP yang hadir menuturkan bahwa belajar langsung dari para ahli membuat materi lebih mudah dipahami. Mereka merasa bahwa pengalaman ini memberi kedekatan emosional dengan sejarah kotanya, sekaligus memicu rasa ingin tahu untuk mempelajari lebih jauh.

Para budayawan lokal memaknai kegiatan ini sebagai momentum menghidupkan kembali memori kolektif. Seorang pengkaji kawasan Pecinan menilai anak muda membutuhkan ruang semacam ini agar tidak tercerabut dari akar sejarah. Harapan senada disampaikan budayawan lain, yang menegaskan pentingnya kesinambungan jagongan literasi.

Dengan pendekatan dialogis dan penyampaian yang ringan, Si Bang Jali 2025 menegaskan bahwa literasi sejarah tidak harus formal dan kaku. Forum ini menjadi ruang temu antara akademisi, pelajar, dan penjaga memori kota, yang bersama-sama menjaga identitas Pasuruan melalui pengetahuan yang mudah diakses publik.

Related posts

Bupati Apresiasi Pengabdian AKBP Dani pada Pisah Sambut Kapolres

Sahal

Pemkab Pasuruan Rawat Jalan Jetak–Dayurejo, Akses Wisata Prigen Diperbaiki

Sahal

Pastikan Pelayanan Humanis, Mas Rusdi Lakukan Sidak ke Fasilitas Kesehatan

Sahal

Leave a Comment